Rabu, 09 Oktober 2013

Kisah Raja Pulau Hitam

Diposting oleh BilaCila di 23.48



“Ayahku adalah raja negeri ini,” ujar sang Raja muda memulai ceritanya. “Kerajaan ini kami sebut Pulau Hitam, karena dikelilingi oleh empat gunung, dan pusat kotanya dulu berdiri megah di tempat yang kini telah berubah menjadi sebuah danau.”
Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan.
"Ayahku bernama Mahmud. Ia memerintah dengan bijaksana selama tujuh puluh tahun, hingga akhirnya wafat. Sebagai putra mahkota, aku menggantikannya naik takhta. Tak lama kemudian, aku menikah dengan seorang wanita yang sangat kucintai—dan kukira ia pun mencintaiku sepenuh hati."
"Pada awalnya, kami hidup bahagia. Aku terpesona oleh kesetiaannya, dan ia tampak begitu mengabdi. Namun, setelah lima tahun berlalu, aku mulai merasakan perubahan. Ada sesuatu yang tidak lagi sama."
Suatu malam, setelah makan malam, sang Raja muda berbaring di bangku panjang karena lelah. Istrinya pergi ke kamar mandi, sementara dua orang dayang duduk di pernikahan—satu di kepala, satu lagi di kaki—mengipasinya.
Mereka mengira sang Raja telah tertidur.
“Kasihan sekali tuan kita,” bisik salah satu dayang. “Begitu mencintai istrinya, padahal wanita itu tidak setia.”
“Benar,” jawab yang lain pelan. “Dan yang lebih menyedihkan, dia tidak tahu bahwa setiap malam istrinya diam-diam pergi.”
“Bagaimana mungkin dia tahu?” lanjut dayang pertama. “Setiap malam, sang Ratu memberikan minuman yang sudah dicampur ramuan. Itu membuat dia tidur lelap sampai pagi. Lalu saat subuh, ia membangunnya dengan parfum khusus.”
Mendengar semua itu, hati sang Raja seperti tersayat. Namun ia tetap bermimpi-pura tertidur.
Tak lama kemudian, istrinya kembali. Seperti biasa, ia membawa gelas minuman.
“Minumlah,” katanya lembut.
Namun kali ini, sang Raja tidak benar-benar meminumnya. Ia hanya berpura-pura, lalu menumpahkan minuman itu tanpa diketahui.
Istrinya tersenyum dingin.
“Semoga kau tak pernah bangun lagi,” gumamnya pelan.
Setelah itu, ia berhias dengan indah, lalu diam-diam meninggalkan kamar.
Begitu ia pergi, sang Raja segera bangkit. Ia mengambil pedangnya dan mengikutinya secara diam-diam.
Istrinya berjalan cepat, melewati pintu-pintu istana yang terbuka dengan sihir dari mantranya. Ia keluar dari kota, membuka gerbang besar yang terkunci dengan mudah, lalu melewati jalan setapak menuju sebuah hutan kecil.
Di dalam hutan itu, terdapat bangunan berkubah dari tanah. Sang Ratu masuk ke dalamnya.
Sang Raja membungkus ke atas kubah dan mengintip dari celah kecil.
Apa yang ia lihat membuat darahnya mendidih.
Di dalamnya, ada seorang budak berkulit hitam, tampak kasar, terbaring di tanah dengan alas daun tebu kering. Sang Ratu mendekatinya dengan penuh kasih.
“Wahai kekasihku,” katanya lembut. "Tahukah kau merugikannya aku? Aku membenci suamiku. Jika bukan karena takut kehilanganmu, sudah kuhancurkan negeri ini hingga tak tersisa kehidupan selain serigala dan burung hantu."
Budak itu menjawab dengan kasar, “Kau hanya wanita pembohong. Aku tak ingin lagi bersamamu!”
Sang Ratu menangis memohon, “Jangan tinggalkan aku… hanya kamu yang kucintai.”
Sang Raja tak sanggup menahan amarahnya.
“Bayangkan perasaanku saat itu!” katanya. "Dengan diam-diam, aku masuk ketika mereka tertidur. Lalu, tanpa ragu, aku menghunus pedang dan menusuk leher budak itu."
Budak itu terkulai tak bergerak. Sang Raja mengira ia telah mati.
Dengan hati yang masih membara, ia pun meninggalkan tempat itu dan kembali ke istana.


Keesokan harinya, aku melihat istriku tampil sangat berbeda. Rambutnya yang panjang telah dipotong pendek, dan ia mengenakan pakaian berkabung berwarna gelap. Wajahnya tampak muram seolah sedang menanggung kesedihan yang sangat besar.
“Wahai suamiku, jangan terkejut melihat keadaanku,” katanya dengan suara lirih. “Aku baru saja menerima tiga kabar duka yang membuat hatiku hancur.”
“Apa yang terjadi?” tanyaku.
"Ibuku telah meninggal di dunia. Ayahku gugur dalam peperangan. Dan adikku meninggal setelah terjatuh ke dalam jurang. Karena itu, izinkan aku meratapi kepergian mereka."
Aku tahu semua itu hanyalah alasan. Aku mengetahui bahwa kesedihannya sebenarnya ditujukan kepada kekasih rahasianya. Namun aku memilih berpura-pura tidak tahu.
“Jika itu yang kau perlukan, maka sujudlah dengan tenang. Aku tidak akan menghalangimu,” jawabku.
Sejak saat itu, ia terus menangis dan berkabung selama setahun penuh. Setelah itu, ia meminta izin untuk membangun sebuah bangunan megah sebagai tempat mengenang orang yang dicintainya. Aku mengizinkannya.
Tak lama kemudian berdirilah sebuah bangunan indah di tengah istana, lengkap dengan kubah besar yang menjulang tinggi. Ia menyewanya di Istana Air Mata.
Namun, di balik kemegahan bangunan itu tersimpan rahasia yang mengerikan. Istriku memindahkan tubuh kekasihnya ke dalam Istana Air Mata. Dengan ilmu sihir yang dimilikinya, ia berhasil membuat lelaki itu hidup kembali. Akan tetapi, kehidupan yang diberikan tidaklah sempurna. Lelaki itu hanya bisa membuka mata, tapi tidak mampu bergerak atau berbicara. Ia tidak benar-benar hidup, namun juga tidak mati sepenuhnya.
Setiap hari istriku datang dua kali ke tempat itu. Ia memberikan ramuan agar tetap bertahan hidup dan melantunkan kata-kata cinta untuknya. Aku tetap berpura-pura tidak mengetahui apa pun.
Dua tahun berlalu.
Kesabaranku akhirnya habis.
Suatu hari aku memasuki Istana Air Mata secara diam-diam. Dari balik pintu, aku mendengar istriku berbicara kepada kekasihnya.
"Wahai kekasihku, sungguh berat melihat penderitaanmu. Andai aku dapat memikul sebagian rasa sakitmu. Mengatakan satu kata saja padaku, maka hatiku akan kembali bahagia. Aku rela kehilangan seluruh kebahagiaanku asalkan dapat melihatmu hidup seperti dulu."
Mendengar itu, kemarahanku meledak.
Aku melangkah maju dan berkata, "Cukup! Sudah saatnya kau menghentikan semua tangisan dan ratapan ini!"
Istriku menoleh dan melihatnya.
“Suamiku, jika kau masih menghormatiku, biarkan aku bersumpah hingga waktu menyembuhkan luka ini,” katanya.
Namun kemarahanku semakin membara.
“Itu bukan kesedihan seorang istri kepada keluarganya!” seruku. “Kenapa kamu tidak mati saja bersama kekasihmu itu?”
Mendengar kata-kataku, wajahnya berubah. Dalam sekejap ia memahami kebenaran yang selama ini tersembunyi.
“Ternyata kau…” katanya dengan suara bergetar. “Kau yang telah membuat kekasihku seperti ini. Jadi kaulah yang menyebabkan seluruh penderitaanku!”
Matanya dipenuhi.
“Ya!” jawabku tanpa gentar. “Akulah yang melakukannya. Dan kau pantas menerima akibat dari pengecualianmu!”
Aku segera mencabut pedang dan bersiap menyerangnya. Namun sebelum saya sempat bergerak, saya mulai mengucapkan mantra dengan bahasa yang belum pernah saya dengar sebelumnya.
Cahaya aneh memenuhi ruangan.
Lalu semuanya berubah.
“Sejak hari itulah aku menjadi seperti ini, wahai Sultan,” kata Raja Muda sambil menahan air mata.
“Aku tidak benar-benar hidup, tetapi juga tidak mati. Tubuhku berubah menjadi setengah manusia dan setengah batu.”
Setelah mengutukku, wanita penyihir itu tidak berhenti sampai di sana. Dengan sihirnya, ia mengubah seluruh kerajaanku.
Kota yang dahulu megah berubah menjadi sebuah danau luas. Empat pulau yang mengelilinginya berubah menjadi empat bukit besar.
Penduduk kerajaanku yang berasal dari berbagai golongan juga terkena kutukannya. Mereka diubah menjadi ikan-ikan berwarna berbeda. Ikan putih melambangkan kaum Muslim, ikan merah melambangkan para penyembah api, ikan biru melambangkan kaum Kristen, dan ikan kuning melambangkan kaum Yahudi.
Sejak saat itu, setiap hari ia datang untuk menyiksaku. Ia mencambukku berkali-kali hingga tubuhku berlumuran darah. Setelah itu, ia memakaikanku pakaian dari kulit kambing yang kasar sehingga membuat tubuhku gatal dan perih. Kemudian ia menutupi semuanya dengan pakaian kebesaranku, bukan untuk menghormatiku, melainkan untuk mempermalukan dan menghina penderitaanku.
“Ya Allah,” lanjut Raja Muda sambil menangis, “berilah aku kesabaran menghadapi cobaan ini. Aku akan terus bersabar sampai pertolongan-Mu datang.”
Sultan yang mendengarkan kisah itu merasa sangat terharu. Ia melihat penderitaan Raja Muda yang begitu besar dan bertekad untuk membebaskannya dari kutukan tersebut.
“Ceritakan kepadaku,” kata Sultan. “Di mana aku dapat menemukan wanita penyihir itu?”
“Setiap pagi ia berada di Istana Air Mata,” jawab Raja Muda. “Setelah selesai menyiksaku, ia pergi ke sana untuk menemui kekasihnya dan memberinya ramuan agar tetap hidup.”
Sultan mengepalkan tangannya dengan penuh tekad.
“Demi Allah,” katanya, “aku akan menolongmu. Aku tidak akan membiarkan kezaliman ini terus berlangsung.”
Mendengar janji itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, secercah harapan muncul di hati Raja Muda.

Menulis
Malam itu Sultan tetap berada di sisi Raja Muda. Ia mendengarkan setiap kisah penderitaan yang dialami sang raja hingga fajar mulai menyingsing. Ketika azan subuh hampir tiba, Sultan berdiri dengan penuh tekad.
"Aku akan mengakhiri semua ini," katanya dalam hati.
Ia melepaskan pakaian kebesarannya agar tidak dikenali, lalu mempersiapkan pedangnya. Setelah semuanya siap, ia berjalan menuju Istana Air Mata, tempat wanita penyihir itu menghabiskan sebagian besar waktunya.
Bangunan itu tampak megah dan menakjubkan. Puluhan lilin menerangi setiap sudut ruangan dengan cahaya keemasan. Wangi parfum yang memenuhi udara begitu kuat hingga hampir membuat Sultan kehilangan kesadarannya.
Namun ia tetap melangkah maju.
Di tengah ruangan, ia menemukan lelaki yang selama ini menjadi sumber kesedihan sang ratu. Budak itu terbaring lemah di atas sebuah dipan. Dengan cepat Sultan mengangkat tubuhnya dan membawanya ke sebuah sumur tua yang berada tidak jauh dari sana. Setelah memastikan tidak ada seorang pun yang melihat, ia menyingkirkan budak itu dan mengambil tempatnya.
Sultan lalu berbaring di atas dipan. Ia menutupi tubuhnya dengan kain dan menyembunyikan pedangnya agar tidak terlihat.
Tak lama kemudian, wanita penyihir itu datang.
Seperti biasanya, sebelum datang ke Istana Air Mata, ia terlebih dahulu menyiksa suaminya yang malang dengan cambukan yang kejam. Setelah puas, ia berjalan menuju tempat kekasihnya berada.
Begitu melihat sosok yang terbaring di dipan, ia langsung menangis.
"Oh, betapa pedihnya nasib yang memisahkan kita," ratapnya. "Wahai kekasihku, bicaralah kepadaku. Ucapkan satu kata saja seperti dulu. Katakan bahwa kau mencintaiku, dan hatiku akan kembali bahagia."
Sultan yang masih bersembunyi di balik kain menjawab dengan suara pelan dan berbeda dari suara aslinya.
"Tiada kekuatan dan pertolongan kecuali atas izin Allah."
Wanita itu terkejut.
Matanya membelalak, lalu wajahnya berubah menjadi penuh kegembiraan.
"Kekasihku!" serunya. "Benarkah itu suaramu? Akhirnya kau bisa berbicara lagi!"
Namun Sultan segera menjawab dengan nada tegas.
"Perempuan yang kejam! Kau tidak pantas menerima cinta dari siapa pun."
Senyum wanita itu seketika menghilang.
"Apa maksudmu?" tanyanya dengan sedih. "Mengapa kau berkata seperti itu?"
"Karena setiap hari kau menyiksa suamimu yang tidak bersalah," jawab Sultan. "Jeritan dan tangisannya mengganggu ketenanganku. Bagaimana mungkin aku bisa pulih jika kau terus melakukan kekejaman seperti itu?"
Wanita itu terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kekasihnya benar-benar marah kepadanya.
"Jadi... itukah penyebabmu tidak kunjung sembuh?" tanyanya.
"Benar," jawab Sultan. "Jika kau ingin aku pulih, bebaskan suamimu dari kutukan itu. Kembalikan dirinya seperti semula dan usir dia dari sini agar aku tidak lagi mendengar penderitaannya."
Mendengar permintaan itu, wanita penyihir tersebut segera berlari menuju ruangan tempat Raja Muda dikurung.
Ia mengambil segelas air yang telah diberi mantra sihir. Setelah itu ia mengangkat gelas tersebut dan mengucapkan kata-kata sakti.
"Jika keadaanmu sekarang memang merupakan takdir yang ditetapkan Sang Pencipta, maka tetaplah seperti ini. Namun jika keadaanmu terjadi karena sihir yang kuucapkan, kembalilah ke bentukmu yang semula."
Air itu pun dipercikkannya ke tubuh Raja Muda.
Seketika cahaya berkilau memenuhi ruangan.
Tubuh Raja Muda yang selama bertahun-tahun membatu mulai berubah. Batu yang menutupi sebagian tubuhnya lenyap satu per satu hingga akhirnya ia kembali menjadi manusia seutuhnya.
Raja Muda hampir tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Ia mengangkat kedua tangannya dan bersyukur kepada Allah atas pertolongan yang telah diberikan-Nya.
"Pergilah!" kata wanita itu. "Jangan pernah kembali lagi ke tempat ini!"
Raja Muda berpura-pura menaati perintah tersebut. Ia berjalan keluar dari ruangan, tetapi sebenarnya bersembunyi di tempat yang aman untuk melihat kelanjutan rencana Sultan.
Sementara itu, wanita penyihir kembali ke Istana Air Mata dengan wajah yang dipenuhi harapan.
"Aku sudah melakukan apa yang kau minta," katanya sambil tersenyum. "Sekarang bangkitlah, wahai kekasihku. Biarkan aku menggenggam tanganmu."
Sultan menahan diri agar tidak ketahuan.
"Aku belum bisa bangkit," jawabnya.
Wanita itu tampak bingung.
"Mengapa? Bukankah semua sudah kulakukan?"
"Belum," kata Sultan. "Masih ada satu hal yang menjadi akar dari semua masalah ini."
Wanita itu segera mendekat.
"Katakan apa yang harus kulakukan. Aku akan melaksanakannya sekarang juga."
Sultan lalu berkata dengan suara keras,
"Bagaimana mungkin kau tidak menyadarinya? Setiap malam, penduduk negeri yang telah kau ubah menjadi ikan mengangkat kepala mereka ke langit dan memohon agar keburukan menimpa kita. Doa mereka membuat kesembuhanku terhambat."
Wanita itu terlihat cemas.
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Kembalikan semuanya seperti semula," jawab Sultan. "Pulihkan kota yang kau ubah menjadi danau. Kembalikan rakyat yang kau jadikan ikan. Hilangkan seluruh kutukan yang telah kau sebarkan. Setelah semuanya kembali normal, barulah aku dapat sembuh sepenuhnya."
Mendengar itu, wanita penyihir tidak ragu sedikit pun.
Karena begitu besar cintanya kepada orang yang ia sangka sebagai kekasihnya, ia segera berlari keluar dari Istana Air Mata.
Tanpa mengetahui bahwa dirinya sedang diperdaya, ia bersiap menghapus seluruh sihir yang selama bertahun-tahun telah membawa penderitaan bagi sebuah kerajaan.

“Aku akan segera menyelamatkan kekasihku,” kata sang ratu dengan penuh semangat. “Sekarang juga aku akan menghapus semua sihirku dan mengembalikan kerajaan ini seperti semula.”

Tanpa membuang waktu, ia pergi menuju danau besar yang dahulu merupakan pusat kerajaannya. Danau itu tampak tenang, padahal di dalamnya tersembunyi ribuan rakyat yang telah diubah menjadi ikan oleh sihirnya.

Ratu itu berlutut di tepi danau. Ia menciduk air dengan kedua tangannya, lalu mengucapkan mantra yang panjang.

Sesaat kemudian, keajaiban pun terjadi.

Permukaan danau bergetar hebat. Air mulai surut dan menghilang sedikit demi sedikit. Dalam sekejap mata, danau itu berubah menjadi sebuah kota yang ramai dan megah seperti dahulu kala.

Ikan-ikan berwarna putih, merah, biru, dan kuning kembali menjadi manusia. Rumah-rumah, pasar-pasar, jalan-jalan, dan taman-taman muncul kembali di tempatnya semula.

Para pengawal Sultan yang sebelumnya berkemah di tepi danau terkejut bukan main. Beberapa saat yang lalu mereka berada di alam yang sunyi, tetapi kini mereka mendapati diri mereka berdiri di tengah kota yang ramai oleh penduduk.

Sementara itu, sang ratu bergegas kembali ke Istana Air Mata.

Dengan wajah penuh harapan, ia menghampiri sosok yang masih berbaring di atas dipan.

“Kekasihku,” katanya sambil tersenyum bahagia, “aku telah melakukan semua yang kau minta. Kerajaan telah kembali seperti semula. Sekarang bangkitlah dan sambut aku.”

“Mendekatlah,” kata Sultan yang masih menyamar.

Ratu itu segera melangkah lebih dekat.

Namun sebelum ia sempat melihat wajah orang yang berada di hadapannya, Sultan bergerak dengan sangat cepat. Ia meraih tangan sang ratu dan langsung menyerangnya dengan pedang yang telah disembunyikan sejak awal.

Ratu itu tidak sempat melawan.

Dalam beberapa saat, kekuatannya lenyap dan seluruh sihirnya berakhir untuk selamanya.

“Kini tidak ada lagi kejahatan yang akan kau sebarkan di muka bumi,” kata Sultan tegas.

Setelah semuanya selesai, Sultan segera menemui Raja Muda yang sejak tadi menunggu dengan penuh harap.

Begitu melihat Sultan keluar dari Istana Air Mata dalam keadaan selamat, wajah Raja Muda langsung berseri-seri.

“Bergembiralah, sahabatku,” kata Sultan. “Penyihir itu telah dikalahkan, dan negerimu telah bebas dari kutukan.”

Raja Muda sangat terharu mendengarnya. Ia berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Sultan yang telah menyelamatkan dirinya, rakyatnya, dan seluruh kerajaannya.

“Tuanku,” katanya, “tinggallah lebih lama di sini agar aku dapat membalas semua kebaikanmu.”

Namun Sultan menggeleng sambil tersenyum.

“Aku harus kembali ke kerajaanku. Tetapi aku berharap engkau hidup bahagia dan memimpin rakyatmu dengan bijaksana.”

Raja Muda lalu berkata, “Sultan yang agung, apakah Anda mengira kerajaan kita berdekatan?”

“Tentu saja,” jawab Sultan. “Menurut perhitunganku, perjalanan ke negeriku hanya memerlukan beberapa jam saja.”

Raja Muda tersenyum.

“Tidak, Tuanku. Itu hanyalah akibat sihir yang dahulu menyelimuti negeri ini. Sekarang setelah kutukan lenyap, jarak sebenarnya antara kerajaan kita sangatlah jauh. Perjalanan menuju kerajaan Anda memerlukan waktu hampir satu tahun.”

Sultan terkejut mendengar penjelasan itu.

Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Raja Muda melanjutkan,

“Aku telah memutuskan untuk menemanimu pulang. Tahtaku akan kuserahkan kepada saudaraku yang dapat dipercaya. Ini adalah kesempatan bagiku untuk membalas sebagian kecil dari kebaikan yang telah kau berikan.”

Mendengar kata-kata itu, hati Sultan terasa hangat.

“Kalau begitu, ikutlah bersamaku,” katanya. “Perjalanan panjang akan terasa lebih ringan jika ditemani sahabat seperti dirimu. Bahkan, aku ingin mengangkatmu sebagai anakku dan menjadikanmu pewaris takhtaku, karena aku tidak memiliki seorang anak pun.”

Mata Raja Muda berkaca-kaca.

Ia memeluk Sultan dengan penuh rasa hormat dan syukur.

Tiga minggu kemudian, seluruh persiapan perjalanan selesai dilakukan. Penduduk kota berkumpul untuk melepas kepergian Raja Muda mereka. Banyak yang menitikkan air mata, namun mereka juga bahagia karena akhirnya negeri mereka kembali damai.

Rombongan Sultan pun berangkat menempuh perjalanan panjang.

Bulan demi bulan berlalu. Mereka melintasi gurun yang luas, pegunungan yang tinggi, serta berbagai negeri yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Namun berkat persahabatan dan kebijaksanaan mereka, perjalanan itu berlangsung tanpa hambatan berarti.

Ketika akhirnya mereka tiba di kerajaan Sultan, rakyat menyambut mereka dengan sukacita. Seluruh negeri bergembira karena rajanya telah kembali dengan selamat.

Keesokan harinya, Sultan mengadakan pertemuan besar di istana.

Di hadapan para bangsawan, pejabat kerajaan, dan rakyatnya, ia mengumumkan bahwa Raja Pulau Hitam telah diangkat sebagai putranya sekaligus pewaris takhta kerajaan.

Keputusan itu disambut dengan tepuk tangan dan sorak kegembiraan.

Namun Sultan tidak melupakan orang yang tanpa sengaja menjadi awal dari semua peristiwa luar biasa tersebut.

Ia memanggil nelayan yang dahulu menemukan ikan-ikan ajaib dan menyebabkan misteri Pulau Hitam terungkap.

Sebagai tanda terima kasih, Sultan mengangkat nelayan itu dan keluarganya menjadi bangsawan kerajaan. Sejak saat itu mereka hidup sejahtera dan berkecukupan hingga akhir hayat.

Demikianlah berakhir kisah Raja Muda dari Pulau Hitam, sebuah kisah tentang kesabaran, pengkhianatan, keberanian, dan pertolongan yang datang pada saat yang paling dibutuhkan.

Namun ketika cerita itu selesai, Sheherazade tersenyum kepada Raja Syahriar.

“Tuanku,” katanya, “sebenarnya masih ada kisah yang jauh lebih menarik daripada cerita ini.”

Raja Syahriar yang sudah larut dalam cerita segera bertanya dengan penasaran,

“Benarkah? Siapakah tokoh dalam kisah itu?”

Sheherazade tersenyum lagi.

“Seorang kuli panggul di pelabuhan, Tuanku.”

“Apa yang istimewa darinya?” tanya Raja.

“Duduklah dan dengarkan,” jawab Sheherazade. “Karena kisahnya dimulai pada suatu pagi yang sangat berbeda dari hari-hari biasanya...”

Dan malam itu pun berlanjut dengan cerita baru yang tak kalah menakjubkan.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Tutorial Seru Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting