Kamis, 10 Oktober 2013

Kisah Seorang Nelayan dan Jin-Bagian 14

Diposting oleh BilaCila di 00.10 0 komentar
 Kisah Raja Pulau Hitam tas. 4


Rabu, 09 Oktober 2013

Kisah Seorang Nelayan dan Jin-Bagian 13

Diposting oleh BilaCila di 23.54 0 komentar
                               Tas Kisah Raja Pulau Hitam. 3 

Kisah Seorang Nelayan dan Jin-Bagian 12

Diposting oleh BilaCila di 23.50 0 komentar

Kisah Raja Pulau Hitam

Diposting oleh BilaCila di 23.48 0 komentar



“Ayahku adalah raja negeri ini,” ujar sang Raja muda memulai ceritanya. “Kerajaan ini kami sebut Pulau Hitam, karena dikelilingi oleh empat gunung, dan pusat kotanya dulu berdiri megah di tempat yang kini telah berubah menjadi sebuah danau.”
Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan.
"Ayahku bernama Mahmud. Ia memerintah dengan bijaksana selama tujuh puluh tahun, hingga akhirnya wafat. Sebagai putra mahkota, aku menggantikannya naik takhta. Tak lama kemudian, aku menikah dengan seorang wanita yang sangat kucintai—dan kukira ia pun mencintaiku sepenuh hati."
"Pada awalnya, kami hidup bahagia. Aku terpesona oleh kesetiaannya, dan ia tampak begitu mengabdi. Namun, setelah lima tahun berlalu, aku mulai merasakan perubahan. Ada sesuatu yang tidak lagi sama."
Suatu malam, setelah makan malam, sang Raja muda berbaring di bangku panjang karena lelah. Istrinya pergi ke kamar mandi, sementara dua orang dayang duduk di pernikahan—satu di kepala, satu lagi di kaki—mengipasinya.
Mereka mengira sang Raja telah tertidur.
“Kasihan sekali tuan kita,” bisik salah satu dayang. “Begitu mencintai istrinya, padahal wanita itu tidak setia.”
“Benar,” jawab yang lain pelan. “Dan yang lebih menyedihkan, dia tidak tahu bahwa setiap malam istrinya diam-diam pergi.”
“Bagaimana mungkin dia tahu?” lanjut dayang pertama. “Setiap malam, sang Ratu memberikan minuman yang sudah dicampur ramuan. Itu membuat dia tidur lelap sampai pagi. Lalu saat subuh, ia membangunnya dengan parfum khusus.”
Mendengar semua itu, hati sang Raja seperti tersayat. Namun ia tetap bermimpi-pura tertidur.
Tak lama kemudian, istrinya kembali. Seperti biasa, ia membawa gelas minuman.
“Minumlah,” katanya lembut.
Namun kali ini, sang Raja tidak benar-benar meminumnya. Ia hanya berpura-pura, lalu menumpahkan minuman itu tanpa diketahui.
Istrinya tersenyum dingin.
“Semoga kau tak pernah bangun lagi,” gumamnya pelan.
Setelah itu, ia berhias dengan indah, lalu diam-diam meninggalkan kamar.
Begitu ia pergi, sang Raja segera bangkit. Ia mengambil pedangnya dan mengikutinya secara diam-diam.
Istrinya berjalan cepat, melewati pintu-pintu istana yang terbuka dengan sihir dari mantranya. Ia keluar dari kota, membuka gerbang besar yang terkunci dengan mudah, lalu melewati jalan setapak menuju sebuah hutan kecil.
Di dalam hutan itu, terdapat bangunan berkubah dari tanah. Sang Ratu masuk ke dalamnya.
Sang Raja membungkus ke atas kubah dan mengintip dari celah kecil.
Apa yang ia lihat membuat darahnya mendidih.
Di dalamnya, ada seorang budak berkulit hitam, tampak kasar, terbaring di tanah dengan alas daun tebu kering. Sang Ratu mendekatinya dengan penuh kasih.
“Wahai kekasihku,” katanya lembut. "Tahukah kau merugikannya aku? Aku membenci suamiku. Jika bukan karena takut kehilanganmu, sudah kuhancurkan negeri ini hingga tak tersisa kehidupan selain serigala dan burung hantu."
Budak itu menjawab dengan kasar, “Kau hanya wanita pembohong. Aku tak ingin lagi bersamamu!”
Sang Ratu menangis memohon, “Jangan tinggalkan aku… hanya kamu yang kucintai.”
Sang Raja tak sanggup menahan amarahnya.
“Bayangkan perasaanku saat itu!” katanya. "Dengan diam-diam, aku masuk ketika mereka tertidur. Lalu, tanpa ragu, aku menghunus pedang dan menusuk leher budak itu."
Budak itu terkulai tak bergerak. Sang Raja mengira ia telah mati.
Dengan hati yang masih membara, ia pun meninggalkan tempat itu dan kembali ke istana.


Keesokan harinya, aku melihat istriku tampil sangat berbeda. Rambutnya yang panjang telah dipotong pendek, dan ia mengenakan pakaian berkabung berwarna gelap. Wajahnya tampak muram seolah sedang menanggung kesedihan yang sangat besar.
“Wahai suamiku, jangan terkejut melihat keadaanku,” katanya dengan suara lirih. “Aku baru saja menerima tiga kabar duka yang membuat hatiku hancur.”
“Apa yang terjadi?” tanyaku.
"Ibuku telah meninggal di dunia. Ayahku gugur dalam peperangan. Dan adikku meninggal setelah terjatuh ke dalam jurang. Karena itu, izinkan aku meratapi kepergian mereka."
Aku tahu semua itu hanyalah alasan. Aku mengetahui bahwa kesedihannya sebenarnya ditujukan kepada kekasih rahasianya. Namun aku memilih berpura-pura tidak tahu.
“Jika itu yang kau perlukan, maka sujudlah dengan tenang. Aku tidak akan menghalangimu,” jawabku.
Sejak saat itu, ia terus menangis dan berkabung selama setahun penuh. Setelah itu, ia meminta izin untuk membangun sebuah bangunan megah sebagai tempat mengenang orang yang dicintainya. Aku mengizinkannya.
Tak lama kemudian berdirilah sebuah bangunan indah di tengah istana, lengkap dengan kubah besar yang menjulang tinggi. Ia menyewanya di Istana Air Mata.
Namun, di balik kemegahan bangunan itu tersimpan rahasia yang mengerikan. Istriku memindahkan tubuh kekasihnya ke dalam Istana Air Mata. Dengan ilmu sihir yang dimilikinya, ia berhasil membuat lelaki itu hidup kembali. Akan tetapi, kehidupan yang diberikan tidaklah sempurna. Lelaki itu hanya bisa membuka mata, tapi tidak mampu bergerak atau berbicara. Ia tidak benar-benar hidup, namun juga tidak mati sepenuhnya.
Setiap hari istriku datang dua kali ke tempat itu. Ia memberikan ramuan agar tetap bertahan hidup dan melantunkan kata-kata cinta untuknya. Aku tetap berpura-pura tidak mengetahui apa pun.
Dua tahun berlalu.
Kesabaranku akhirnya habis.
Suatu hari aku memasuki Istana Air Mata secara diam-diam. Dari balik pintu, aku mendengar istriku berbicara kepada kekasihnya.
"Wahai kekasihku, sungguh berat melihat penderitaanmu. Andai aku dapat memikul sebagian rasa sakitmu. Mengatakan satu kata saja padaku, maka hatiku akan kembali bahagia. Aku rela kehilangan seluruh kebahagiaanku asalkan dapat melihatmu hidup seperti dulu."
Mendengar itu, kemarahanku meledak.
Aku melangkah maju dan berkata, "Cukup! Sudah saatnya kau menghentikan semua tangisan dan ratapan ini!"
Istriku menoleh dan melihatnya.
“Suamiku, jika kau masih menghormatiku, biarkan aku bersumpah hingga waktu menyembuhkan luka ini,” katanya.
Namun kemarahanku semakin membara.
“Itu bukan kesedihan seorang istri kepada keluarganya!” seruku. “Kenapa kamu tidak mati saja bersama kekasihmu itu?”
Mendengar kata-kataku, wajahnya berubah. Dalam sekejap ia memahami kebenaran yang selama ini tersembunyi.
“Ternyata kau…” katanya dengan suara bergetar. “Kau yang telah membuat kekasihku seperti ini. Jadi kaulah yang menyebabkan seluruh penderitaanku!”
Matanya dipenuhi.
“Ya!” jawabku tanpa gentar. “Akulah yang melakukannya. Dan kau pantas menerima akibat dari pengecualianmu!”
Aku segera mencabut pedang dan bersiap menyerangnya. Namun sebelum saya sempat bergerak, saya mulai mengucapkan mantra dengan bahasa yang belum pernah saya dengar sebelumnya.
Cahaya aneh memenuhi ruangan.
Lalu semuanya berubah.
“Sejak hari itulah aku menjadi seperti ini, wahai Sultan,” kata Raja Muda sambil menahan air mata.
“Aku tidak benar-benar hidup, tetapi juga tidak mati. Tubuhku berubah menjadi setengah manusia dan setengah batu.”
Setelah mengutukku, wanita penyihir itu tidak berhenti sampai di sana. Dengan sihirnya, ia mengubah seluruh kerajaanku.
Kota yang dahulu megah berubah menjadi sebuah danau luas. Empat pulau yang mengelilinginya berubah menjadi empat bukit besar.
Penduduk kerajaanku yang berasal dari berbagai golongan juga terkena kutukannya. Mereka diubah menjadi ikan-ikan berwarna berbeda. Ikan putih melambangkan kaum Muslim, ikan merah melambangkan para penyembah api, ikan biru melambangkan kaum Kristen, dan ikan kuning melambangkan kaum Yahudi.
Sejak saat itu, setiap hari ia datang untuk menyiksaku. Ia mencambukku berkali-kali hingga tubuhku berlumuran darah. Setelah itu, ia memakaikanku pakaian dari kulit kambing yang kasar sehingga membuat tubuhku gatal dan perih. Kemudian ia menutupi semuanya dengan pakaian kebesaranku, bukan untuk menghormatiku, melainkan untuk mempermalukan dan menghina penderitaanku.
“Ya Allah,” lanjut Raja Muda sambil menangis, “berilah aku kesabaran menghadapi cobaan ini. Aku akan terus bersabar sampai pertolongan-Mu datang.”
Sultan yang mendengarkan kisah itu merasa sangat terharu. Ia melihat penderitaan Raja Muda yang begitu besar dan bertekad untuk membebaskannya dari kutukan tersebut.
“Ceritakan kepadaku,” kata Sultan. “Di mana aku dapat menemukan wanita penyihir itu?”
“Setiap pagi ia berada di Istana Air Mata,” jawab Raja Muda. “Setelah selesai menyiksaku, ia pergi ke sana untuk menemui kekasihnya dan memberinya ramuan agar tetap hidup.”
Sultan mengepalkan tangannya dengan penuh tekad.
“Demi Allah,” katanya, “aku akan menolongmu. Aku tidak akan membiarkan kezaliman ini terus berlangsung.”
Mendengar janji itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, secercah harapan muncul di hati Raja Muda.

Menulis
Malam itu Sultan tetap berada di sisi Raja Muda. Ia mendengarkan setiap kisah penderitaan yang dialami sang raja hingga fajar mulai menyingsing. Ketika azan subuh hampir tiba, Sultan berdiri dengan penuh tekad.
"Aku akan mengakhiri semua ini," katanya dalam hati.
Ia melepaskan pakaian kebesarannya agar tidak dikenali, lalu mempersiapkan pedangnya. Setelah semuanya siap, ia berjalan menuju Istana Air Mata, tempat wanita penyihir itu menghabiskan sebagian besar waktunya.
Bangunan itu tampak megah dan menakjubkan. Puluhan lilin menerangi setiap sudut ruangan dengan cahaya keemasan. Wangi parfum yang memenuhi udara begitu kuat hingga hampir membuat Sultan kehilangan kesadarannya.
Namun ia tetap melangkah maju.
Di tengah ruangan, ia menemukan lelaki yang selama ini menjadi sumber kesedihan sang ratu. Budak itu terbaring lemah di atas sebuah dipan. Dengan cepat Sultan mengangkat tubuhnya dan membawanya ke sebuah sumur tua yang berada tidak jauh dari sana. Setelah memastikan tidak ada seorang pun yang melihat, ia menyingkirkan budak itu dan mengambil tempatnya.
Sultan lalu berbaring di atas dipan. Ia menutupi tubuhnya dengan kain dan menyembunyikan pedangnya agar tidak terlihat.
Tak lama kemudian, wanita penyihir itu datang.
Seperti biasanya, sebelum datang ke Istana Air Mata, ia terlebih dahulu menyiksa suaminya yang malang dengan cambukan yang kejam. Setelah puas, ia berjalan menuju tempat kekasihnya berada.
Begitu melihat sosok yang terbaring di dipan, ia langsung menangis.
"Oh, betapa pedihnya nasib yang memisahkan kita," ratapnya. "Wahai kekasihku, bicaralah kepadaku. Ucapkan satu kata saja seperti dulu. Katakan bahwa kau mencintaiku, dan hatiku akan kembali bahagia."
Sultan yang masih bersembunyi di balik kain menjawab dengan suara pelan dan berbeda dari suara aslinya.
"Tiada kekuatan dan pertolongan kecuali atas izin Allah."
Wanita itu terkejut.
Matanya membelalak, lalu wajahnya berubah menjadi penuh kegembiraan.
"Kekasihku!" serunya. "Benarkah itu suaramu? Akhirnya kau bisa berbicara lagi!"
Namun Sultan segera menjawab dengan nada tegas.
"Perempuan yang kejam! Kau tidak pantas menerima cinta dari siapa pun."
Senyum wanita itu seketika menghilang.
"Apa maksudmu?" tanyanya dengan sedih. "Mengapa kau berkata seperti itu?"
"Karena setiap hari kau menyiksa suamimu yang tidak bersalah," jawab Sultan. "Jeritan dan tangisannya mengganggu ketenanganku. Bagaimana mungkin aku bisa pulih jika kau terus melakukan kekejaman seperti itu?"
Wanita itu terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kekasihnya benar-benar marah kepadanya.
"Jadi... itukah penyebabmu tidak kunjung sembuh?" tanyanya.
"Benar," jawab Sultan. "Jika kau ingin aku pulih, bebaskan suamimu dari kutukan itu. Kembalikan dirinya seperti semula dan usir dia dari sini agar aku tidak lagi mendengar penderitaannya."
Mendengar permintaan itu, wanita penyihir tersebut segera berlari menuju ruangan tempat Raja Muda dikurung.
Ia mengambil segelas air yang telah diberi mantra sihir. Setelah itu ia mengangkat gelas tersebut dan mengucapkan kata-kata sakti.
"Jika keadaanmu sekarang memang merupakan takdir yang ditetapkan Sang Pencipta, maka tetaplah seperti ini. Namun jika keadaanmu terjadi karena sihir yang kuucapkan, kembalilah ke bentukmu yang semula."
Air itu pun dipercikkannya ke tubuh Raja Muda.
Seketika cahaya berkilau memenuhi ruangan.
Tubuh Raja Muda yang selama bertahun-tahun membatu mulai berubah. Batu yang menutupi sebagian tubuhnya lenyap satu per satu hingga akhirnya ia kembali menjadi manusia seutuhnya.
Raja Muda hampir tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Ia mengangkat kedua tangannya dan bersyukur kepada Allah atas pertolongan yang telah diberikan-Nya.
"Pergilah!" kata wanita itu. "Jangan pernah kembali lagi ke tempat ini!"
Raja Muda berpura-pura menaati perintah tersebut. Ia berjalan keluar dari ruangan, tetapi sebenarnya bersembunyi di tempat yang aman untuk melihat kelanjutan rencana Sultan.
Sementara itu, wanita penyihir kembali ke Istana Air Mata dengan wajah yang dipenuhi harapan.
"Aku sudah melakukan apa yang kau minta," katanya sambil tersenyum. "Sekarang bangkitlah, wahai kekasihku. Biarkan aku menggenggam tanganmu."
Sultan menahan diri agar tidak ketahuan.
"Aku belum bisa bangkit," jawabnya.
Wanita itu tampak bingung.
"Mengapa? Bukankah semua sudah kulakukan?"
"Belum," kata Sultan. "Masih ada satu hal yang menjadi akar dari semua masalah ini."
Wanita itu segera mendekat.
"Katakan apa yang harus kulakukan. Aku akan melaksanakannya sekarang juga."
Sultan lalu berkata dengan suara keras,
"Bagaimana mungkin kau tidak menyadarinya? Setiap malam, penduduk negeri yang telah kau ubah menjadi ikan mengangkat kepala mereka ke langit dan memohon agar keburukan menimpa kita. Doa mereka membuat kesembuhanku terhambat."
Wanita itu terlihat cemas.
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Kembalikan semuanya seperti semula," jawab Sultan. "Pulihkan kota yang kau ubah menjadi danau. Kembalikan rakyat yang kau jadikan ikan. Hilangkan seluruh kutukan yang telah kau sebarkan. Setelah semuanya kembali normal, barulah aku dapat sembuh sepenuhnya."
Mendengar itu, wanita penyihir tidak ragu sedikit pun.
Karena begitu besar cintanya kepada orang yang ia sangka sebagai kekasihnya, ia segera berlari keluar dari Istana Air Mata.
Tanpa mengetahui bahwa dirinya sedang diperdaya, ia bersiap menghapus seluruh sihir yang selama bertahun-tahun telah membawa penderitaan bagi sebuah kerajaan.

“Aku akan segera menyelamatkan kekasihku,” kata sang ratu dengan penuh semangat. “Sekarang juga aku akan menghapus semua sihirku dan mengembalikan kerajaan ini seperti semula.”

Tanpa membuang waktu, ia pergi menuju danau besar yang dahulu merupakan pusat kerajaannya. Danau itu tampak tenang, padahal di dalamnya tersembunyi ribuan rakyat yang telah diubah menjadi ikan oleh sihirnya.

Ratu itu berlutut di tepi danau. Ia menciduk air dengan kedua tangannya, lalu mengucapkan mantra yang panjang.

Sesaat kemudian, keajaiban pun terjadi.

Permukaan danau bergetar hebat. Air mulai surut dan menghilang sedikit demi sedikit. Dalam sekejap mata, danau itu berubah menjadi sebuah kota yang ramai dan megah seperti dahulu kala.

Ikan-ikan berwarna putih, merah, biru, dan kuning kembali menjadi manusia. Rumah-rumah, pasar-pasar, jalan-jalan, dan taman-taman muncul kembali di tempatnya semula.

Para pengawal Sultan yang sebelumnya berkemah di tepi danau terkejut bukan main. Beberapa saat yang lalu mereka berada di alam yang sunyi, tetapi kini mereka mendapati diri mereka berdiri di tengah kota yang ramai oleh penduduk.

Sementara itu, sang ratu bergegas kembali ke Istana Air Mata.

Dengan wajah penuh harapan, ia menghampiri sosok yang masih berbaring di atas dipan.

“Kekasihku,” katanya sambil tersenyum bahagia, “aku telah melakukan semua yang kau minta. Kerajaan telah kembali seperti semula. Sekarang bangkitlah dan sambut aku.”

“Mendekatlah,” kata Sultan yang masih menyamar.

Ratu itu segera melangkah lebih dekat.

Namun sebelum ia sempat melihat wajah orang yang berada di hadapannya, Sultan bergerak dengan sangat cepat. Ia meraih tangan sang ratu dan langsung menyerangnya dengan pedang yang telah disembunyikan sejak awal.

Ratu itu tidak sempat melawan.

Dalam beberapa saat, kekuatannya lenyap dan seluruh sihirnya berakhir untuk selamanya.

“Kini tidak ada lagi kejahatan yang akan kau sebarkan di muka bumi,” kata Sultan tegas.

Setelah semuanya selesai, Sultan segera menemui Raja Muda yang sejak tadi menunggu dengan penuh harap.

Begitu melihat Sultan keluar dari Istana Air Mata dalam keadaan selamat, wajah Raja Muda langsung berseri-seri.

“Bergembiralah, sahabatku,” kata Sultan. “Penyihir itu telah dikalahkan, dan negerimu telah bebas dari kutukan.”

Raja Muda sangat terharu mendengarnya. Ia berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Sultan yang telah menyelamatkan dirinya, rakyatnya, dan seluruh kerajaannya.

“Tuanku,” katanya, “tinggallah lebih lama di sini agar aku dapat membalas semua kebaikanmu.”

Namun Sultan menggeleng sambil tersenyum.

“Aku harus kembali ke kerajaanku. Tetapi aku berharap engkau hidup bahagia dan memimpin rakyatmu dengan bijaksana.”

Raja Muda lalu berkata, “Sultan yang agung, apakah Anda mengira kerajaan kita berdekatan?”

“Tentu saja,” jawab Sultan. “Menurut perhitunganku, perjalanan ke negeriku hanya memerlukan beberapa jam saja.”

Raja Muda tersenyum.

“Tidak, Tuanku. Itu hanyalah akibat sihir yang dahulu menyelimuti negeri ini. Sekarang setelah kutukan lenyap, jarak sebenarnya antara kerajaan kita sangatlah jauh. Perjalanan menuju kerajaan Anda memerlukan waktu hampir satu tahun.”

Sultan terkejut mendengar penjelasan itu.

Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Raja Muda melanjutkan,

“Aku telah memutuskan untuk menemanimu pulang. Tahtaku akan kuserahkan kepada saudaraku yang dapat dipercaya. Ini adalah kesempatan bagiku untuk membalas sebagian kecil dari kebaikan yang telah kau berikan.”

Mendengar kata-kata itu, hati Sultan terasa hangat.

“Kalau begitu, ikutlah bersamaku,” katanya. “Perjalanan panjang akan terasa lebih ringan jika ditemani sahabat seperti dirimu. Bahkan, aku ingin mengangkatmu sebagai anakku dan menjadikanmu pewaris takhtaku, karena aku tidak memiliki seorang anak pun.”

Mata Raja Muda berkaca-kaca.

Ia memeluk Sultan dengan penuh rasa hormat dan syukur.

Tiga minggu kemudian, seluruh persiapan perjalanan selesai dilakukan. Penduduk kota berkumpul untuk melepas kepergian Raja Muda mereka. Banyak yang menitikkan air mata, namun mereka juga bahagia karena akhirnya negeri mereka kembali damai.

Rombongan Sultan pun berangkat menempuh perjalanan panjang.

Bulan demi bulan berlalu. Mereka melintasi gurun yang luas, pegunungan yang tinggi, serta berbagai negeri yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Namun berkat persahabatan dan kebijaksanaan mereka, perjalanan itu berlangsung tanpa hambatan berarti.

Ketika akhirnya mereka tiba di kerajaan Sultan, rakyat menyambut mereka dengan sukacita. Seluruh negeri bergembira karena rajanya telah kembali dengan selamat.

Keesokan harinya, Sultan mengadakan pertemuan besar di istana.

Di hadapan para bangsawan, pejabat kerajaan, dan rakyatnya, ia mengumumkan bahwa Raja Pulau Hitam telah diangkat sebagai putranya sekaligus pewaris takhta kerajaan.

Keputusan itu disambut dengan tepuk tangan dan sorak kegembiraan.

Namun Sultan tidak melupakan orang yang tanpa sengaja menjadi awal dari semua peristiwa luar biasa tersebut.

Ia memanggil nelayan yang dahulu menemukan ikan-ikan ajaib dan menyebabkan misteri Pulau Hitam terungkap.

Sebagai tanda terima kasih, Sultan mengangkat nelayan itu dan keluarganya menjadi bangsawan kerajaan. Sejak saat itu mereka hidup sejahtera dan berkecukupan hingga akhir hayat.

Demikianlah berakhir kisah Raja Muda dari Pulau Hitam, sebuah kisah tentang kesabaran, pengkhianatan, keberanian, dan pertolongan yang datang pada saat yang paling dibutuhkan.

Namun ketika cerita itu selesai, Sheherazade tersenyum kepada Raja Syahriar.

“Tuanku,” katanya, “sebenarnya masih ada kisah yang jauh lebih menarik daripada cerita ini.”

Raja Syahriar yang sudah larut dalam cerita segera bertanya dengan penasaran,

“Benarkah? Siapakah tokoh dalam kisah itu?”

Sheherazade tersenyum lagi.

“Seorang kuli panggul di pelabuhan, Tuanku.”

“Apa yang istimewa darinya?” tanya Raja.

“Duduklah dan dengarkan,” jawab Sheherazade. “Karena kisahnya dimulai pada suatu pagi yang sangat berbeda dari hari-hari biasanya...”

Dan malam itu pun berlanjut dengan cerita baru yang tak kalah menakjubkan.

Kisah Seorang Nelayan dan Jin-Bagian 10

Diposting oleh BilaCila di 22.05 0 komentar

Rahasia Istana Hitam
Sultan menunggu hingga semua pengawalnya tidur, lalu tanpa meninggalkan suara ia pergi meninggalkan perkemahan. Yang ditujunya adalah salah satu dari keempat bukit kecil yang mengelilingi danau. Ia menempuhnya tanpa kesulitan. Sultan terus berjalan sepanjang malam, sepanjang pagi hingga matahari mulai terik. Ia memutuskan untuk mencari tempat untuk beristirahat. Tampak di kejauhan sebuah bangunan berwarna hitam menjulang, maka sultan segera menuju ke tempat itu. Ternyata bangunan itu adalah sebuah istana yang terbuat dari marmer hitam yang mengkilat seperti cermin dan disangga dengan besi-besi yang kuat.
Didorong rasa penasaran yang menghantuinya, sultan mendekati isatan tersebut. Salah satu daun pintunya dalam keadaan terbuka. Sultan mengetuk pintu itu, mula-mula dengan ketukan halus. Satu kali, tidak ada jawaban. Kedua kali juga tidak ada jawaban. Raj mengetuk pinu itu unutk ketiga kalinya, kali ini dengan ketukan yang keras. Namun tetap tidak ada jawaban.
“Tidak mungkin tidak ada penghuninya,” pikir sultan. “Baiklah aku masuk saja. Toh aku sudah mengetuk.”
Sultan masuk ke istana tersebut.
“Assalamu alaikum…apakah ada orang di dalam? Aku seorang pengembara dan ingin beristirahat, “ teriak sultan.
Tidak ada sahutan. Sultan mengulanginya lagi berkali-kali tapi tetap tidak ada yang menyahut.
Sultan semakin penasaran, ia meneruskan langkahnya ke tengah istana. Tidak ada satu orang pun yang ditemuinya. Tapi barang-barang di istana ini terlihat sangat terpelihara dan berkualitas tinggi. Akhirnya sultan sampai di sebuah ruangan yang sangat luas. Lantainya tertutup permadani sutra yang sangat halus. Sofa-sofa dilapisi kain mecca yang mewah. Tirai-tirai sutra India berenda emas dan perak tergantung indah di setiap jendela.
Lalu sultan sampai di sebuah teras yang sangat indah. Empat patung singa terbuat dari emas menghiasi setiap sudutnya. Air yang sangat jernih mengalir dari mulutnya seperti air terjun kecil. Langit-langitnya dilukis dengan lukisan yang sangat menawan.
Istana itu dikelilingi oleh taman di ketiga sisinya. Bunga-bunga beraneka warna, air mancur-air mancur yang indah, dan ornamen-ornamen indah lainnya menghiasi taman tersebut. Ribuan burung beraneka jenis juga ikut menghidupkan taman itu dengan suaranya yang merdu. Sebuah jarring yang sangat lebar mengelilingi taman tersebut, mencegah burung-burung tersebut meloloskan diri.
Sultan berkeliling dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Semuanya tampak luar biasa. Namun tak seorang manusia pun yang dijumpainya. Akhirnya sultan duduk melepaskan lelah di sebuah bangku yang menghadap taman. Lalu samara-samar terdengar sebuah tangisan, “Duhai nasib! Kau telah membuatku begitu menderita. Kau menghalangi kebahagiaanku! Dan kau memberiku istri terburuk dalam hidupku. Kumohon hentikanlah! Atau berilah aku kematian untuk mengakhiri penderitaanku.”
Sultan segera mencari asal tangisan tersebut. Ia melihat sebuah ruangan yang ditutupi oleh sebuah tirai. Ketika sultan menyibakkan tirai tersebut, ia melihat seorang pria yang sedang duduk di sebuah singgasana yang sedikit melayang di atas lantai. Pria tersebut berwajah sangat tampan dan berpakaian sangat mewah. Namun wajahnya memperlihatkan kesedihannya. Sultan mendekatinya dan mengucapkan salam. Pria itu membungkukkan badannya tanpa bangkit dari tempat duduknya.
“Maafkan aku,” katanya. “Seharusnya aku berdiri dan menyambutmu. Tapi sebuah kekuatan yang menahanku membuatku tak berdaya.”
“Tidak apa-apa anak muda,” kata sultan. “Aku mendengar tangisanmu. Pasti ada sesuatu yang membuatmu begitu menderita. Aku ingin sekali membantumu. Tapi, pertama-tama maukah kau memberitahuku tentang danau yang di dalamnya terdapat empat macam ikan yang berbeda warna? Dan kenapa ada istana di tempat terpencil ini? Dan kenapa kau hidup sendiri di sini?”
Mendengar pertanyaan sultan, pria itu kembali menangis pilu.
“Kenapa kau menangis?” tanya sultan.
“Oh betapa buruk nasibku! Apa yang bisa aku lakukan selain menangis,” katanya sambil menyibakkan jubah yang menutupi kakinya.
Raja terkejut karena ternyata badan pria itu hanya dari pinggang ke atas yang bisa digerakkan sedangkan dari pinggang ke bawah adalah batu marmer hitam.
“Apa yang terjadi denganmu? Aku yakin kekuatan yang mengubahmu juga berkaitan dengan terjadinya danau yang muncul tiba-tiba itu, dan juga adanya ikan dengan empat macam warna itu. Maukah kau menceritakannya padaku?” tanya sultan.
"Aku akan menceritakannya. Tapi cerita ini mungkin akan sulit diterima oleh akal,” katanya.
Lalu ia pun memulai kisahnya…
-------
 
Bersambung...

Kisah Seorang Nelayan dan Jin-Bagian 9

Diposting oleh BilaCila di 03.16 0 komentar

Ikan-ikan yang aneh
“Tuanku,” kata Sheharazade, “setelah mendengar cerita ini, kita akan kembali ke si nelayan yang akan melemparkan jin Ifrit kembali ke tengah laut.”
“Nah Ifrit,” kata nelayan, “seandainya raja Yunan membebaskan guru Duban, mungkin Alloh juga tidak akan menghukumnya. Tapi ia menolak, dan kematianlah yang ia terima. Dan kau Ifrit, karena kau juga melakukan hal yang sama dengan raja Yunan, maka aku juga akan melakukan hal yang sama dengan guru Duban. Aku akan melelmparkanmu kembali ke laut.”
Ifrit menangis mendengar perkataan si nelayan, “Wahai nelayan, sekali lagi maafkan aku atas perbuatanku. Jangan membalas dendam, Sesungguhnya itu bukan bagian dari kebaikan hati. Tolong bebaskan aku, aku berjanji tidak akan menyakitimu!”
“Tidak!” kata nelayan.
“Aku akan membuatmu kaya seumur hidupmu,” kata jin.
Keinginannya untuk keluar dari kemiskinan membuat hati nelayan itu tergerak.
“Baiklah! Bersumpahlah kau atas nama Alloh yang Maha Kuasa bahwa kau tidak akan menyakitiku dan mengingkari ucapanmu!” kata nelayan.
Jin Ifrit mengucapkan sumpahnya, maka nelayan membuka penutup botolnya. Jin Ifrit keluar dari botol tersebut dan cepat-cepat melemparkan botol yang dipegang nelayan ke tengah laut, membuat si nelayan ketakutan.
Jin tertawa dan berkata, “Jangan khawatir! Aku tidak akan mengingkari janjiku. Sekarang ikutilah aku!”
Nelayan berjalan mengikuti jin hingga mereka tiba di sebuah danau yang luas dan jin itu berkata, “Lemparkan jalamu!”
Nelayan itu melihat banyak sekali ikan dengan berbagai warna: putih, merah, biru dan kuning. Ia melemparkan jalanya dan sangat yakin bahwa ia akan mendapatkan banyak sekali ikan yang terperangkap di jalanya. Tapi ternyata hanya empat ekor ikan dengan warna yang berbeda yang tertangkap.
“Bawa ikan ini ke istana dan persembahkan pada Sultan!” kata jin. “Dia akan memberimu uang yang banyak. Kau boleh datang ke sini setiap hari, tapi ingat! Kau hanya boleh melemparkan jalamu sekali sehari atau sesuatu yang buruk akan menimpamu!”
Setelah mengucapkan itu, Jin menghentakan kakinya ke tanah hingga terbelah. Sedetik kemudian tubuhnya menghilang ditelan bumi.
Nelayan membawa ikan itu pulang ke rumahnya dan menaruh mereka di dalam ember berisi air. Lalu ia membawanya ke hadapan Sultan. Sultan sangat senang dengan ikan pemberian nelayan karena baru pertama kali dalam hidupnya ia melihat ikan-ikan yang begitu cantik.
“Wah, ikan ini indah sekali! Kelihatannya sangat lezat. Terima kasih nelayan. Ini, terimalah hadiahmu!” kata sultan sambil memberikan empat ribu keping uang emas kepada nelayan.
Betapa bahagianya nelayan. Kini ia bisa membeli kebutuhan keluarganya.
“Wezir, bawa ikan ini kepada juru masak kita yang baru didatangkan dari Yunani itu! Ikan-ikan ini pasti selezat kecantikannya,” perintah sultan.
Wezir membawa ikan itu ke dapur dan menyerahkannya kepada juru masak supaya disiapkan untuk makan malam sultan.
“Kini tuanku,” kata Sheherazade. “Mari kita lihat apa yang terjadi di dapur istana.”
Juru masak istana segera membersihkan ikan-ikan tersebut, lalu menaruhnya di atas wajan dan memberinya sedikit minyak. Namun ketika ia akan membalik ikan-ikan tersebut, tiba-tiba tembok di hadapannya terbelah. Seorang gadis cantik keluar dari dalamnya. Ia mengenakan jubah biru yang terbuat dari satin, dengan anting-anting di telinganya, kalung mutiara tergantung di lehernya yang jenjang, serta cincin bermata rubi di jarinya yang lentik. Tanpa mempedulikan sang juru masak yang terkejut dengan kejadian aneh itu, ia melangkah mendekati penggorengan. Dengan sebatan tongkat di tangannya, ia mengetuk pinggir wajan dan berkata, “Hai ikan! Apakah kamu sedang melakukan tugasmu?”
Juru masak pun pingsan tak sadarkan diri.
Gadis itu mengulang pertanyaannya beberapa kali sebelum akhirnya ikan-ikan itu mengangkat kepalanya, “ya, ya! Jika kamu kembali kami pasti kembali. Jika kamu datang kami pasti datang. Dan jika kamu bersumpah, maka kami pun demikian!”
Lalu gadis itu mematikan api dengan tongkatnya lalu kembali menghilang ke dalam tembok yang segera menutup kembali seperti semula.
Juru masak istana yang baru sadar dari pingsannya, segera menengok ke dalam penggorengan dan mendapatkan bahwa ikan-ikan itu telah gosong. Ia sangat ketakutan, menyadari bahwa sultan akan murka.
“Aduh!” keluhnya, “Bagaimana aku melaporkannya pada sultan? Ia pasti tidak percaya jika aku menceritakan yang sebenarnya.”
Ketika ia tengah kebingungan, Wezir datang dan berkata “Juru masak, bawalah ikannya ke hadapan sultan!”
Juru masak dengan ketakutan menangis dan menceritakan kejadian aneh yang menimpanya. Wezir tercengang mendengarnya. Ia memutuskan untuk membuktikannya sendiri. Maka ia mengatakan kepada sultan bahwa karena satu dan lain hal, ikannya tidak jadi dihidangkan. Ia lalu memanggil nelayan dan memintanya untuk membawakan kembali ikan yang sama. Nelayan berjanji akan membawa ikan-ikan itu esok pagi.
Esoknya nelayan pergi ke danau dan kembali mendapatkan empat ekor ikan yang berbeda warna dan membawanya ke hadapan Wezir. Wezir membawanya ke dapur dan berkata kepada juru masak, “Masaklah! Aku ingin melihat sendiri kejadian yang kau ceritakan.”
Juru masak segera membersihkan ikan tersebut dan kemudian menaruhnya di atas wajan. Saat ikan-ikan tersebut telah matang di satu sisi dan siap dibalik, dinding di belakan wajan tersebut kembali terbelah. Dari dalamnya keluarlah gadis yang sama. Lalu dengan tongkatnya ia mengetuk-ngetuk wajan dan berkata: “Hai ikan! Apakah kamu sedang melakukan tugasmu?” Ikan-ikan itu mengangkat kepalanya dan menjawab dengan jawaban yang sama. Gadis itu mematikan api dengan tongkatnya lalu menghilang ke dalam tembok.
“Waw, sungguh luar biasa! Aku harus memberitahukannya pada sultan,” kata Wezir.
Sultan sangat penasaran mendengar cerita hebat tersebut.
“Aku harus melihat sendiri. Suruhlah nelayan untuk membawa ikan-ikan yang sama!” kata sultan.
Segera setelah nelayan menyerahkan ikannya dan menerima hadiahnya, Wezir membawanya ke ruang pribadi sultan. Wezir sendiri yang membersihkan dan menggoreng ikan-ikan tersebut di hadapan sultan. Dan seperti kemarin, ketika ikan sudah matang di satu sisi dan siap dibalik, tembok di belakang penggorengan itu terbuka. Namun kini yang datang bukanlah seorang gadis cantik melainkan seorang laki-laki negro yang berpakaian seperti pelayan. Negro ini bertubuh sangat besar dan membawa tongkat berwarna hijau ditangannya. Dengan tongkat itu ia mengetuk sisi penggorengan dan berkata dengan suaranya yang jelek, “Hai ikan! Apakah kamu sedang melakukan tugasmu?”
Dan ikan-ikan itu menjawab dengan jawaban yang sama. Negro itu melemparkan wajan hingga ke tengah ruangan dan mengubah ikan-ikan tersebut menjadi arang. Lalu ia pun menghilang ke dalam tembok yang segera menutup kembali.
“Kini aku yakin bahwa ikan-ikan ini bukan ikan sembarangan, aku harus mencari tahu. Panggillah segera nelayan untuk menghadapku!” kata sultan.
“Nelayan!” kata sultan setelah nelayan datang menghadap, “Dimana kau tangkap ikan-ikan itu?”
“Hamba menangkapnya dari sebuah danau yang terletak di antara 4 bukit kecil, di belakang gunung yang bisa tuanku lihat dari sini,” kata nelayan.
“Kamu tahu danau itu?” tanya sultan kepada Wezir.
“Tidak tuanku!” jawabnya. “Hamba belum pernah mendengarnya meskipun hamba sering berburu di sekitar gunung tersebut.”
Menurut nelayan, danau itu bisa ditempuh dalam waktu tiga jam, dan karena hari masih siang, sultan mengumpulkan beberapa pengawal termasuk Wezir untuk berangkat ke danau tersebut.
Mereka tiba di danau dan melihat bahwa danau itu sangat luas. Airnya begitu bening sehingga dasarnya bisa terlihat. Dan di dalamnya, ribuan ikan berenang, ikan merah, ikan, putih, ikan kuning dan ikan biru.
“Aku heran kenapa tak seoang pun dari kita yang pernah mendengar danau ini, padahal jaraknya begitu dekat dengan istana. Pasti ada sesuatu di balik semua ini. Demi Alloh, aku tidak akan kembali ke istana sebelum aku tahu penyebabnya!” kata sultan.
Ia lalu memerintahkan kepada pengawalnya untuk memasang tenda dan bermalam di sana.
Malamnya sultan memanggil Wezir.
“Kejadian ini sungguh membuatku penasaran. Danau yang yang tiba-tiba ada di sini, negro yang datang ke kamarku, ikan yang bisa bicara, semuanya sangat tidak biasa. Aku memutuskan untuk menyelidikinya sendiri. Tapi kau haus merahasiakan kepergianku. Berjagalah di depan tendaku. Jika siapapun ingin menemuiku, katakana bahwa aku sedang sakit dan tidak ingin diganggu. Lakukan itu hingga aku kembali!” perintah sultan.
-------
 
Bersambung...

Kisah Seorang Nelayan dan Jin-Bagian 8

Diposting oleh BilaCila di 03.12 0 komentar

Kematian Guru Duban
“Tuanku,” kata Wezir kepada raja Yunan. “Kalau kau percaya pada cerita ini, kau akan mengerti bahwa suatu saat guru itu akan mencelakakanmu. Maka jangan jadikan ia kepercayaanmu ataupun pendampingmu. Tuanku, jika dia bisa membuat obat yang bisa menyembuhkan paduka tanpa diminum ataupun dioles, maka dia pun bisa membunuh paduka hanya dengan menyuruh paduka mencium aroma,” katanya.
Raja tertegun dan berkata, “Yang kau katakana itu masuk akal wahai Wezirku. Mungkin saja guru Duban itu adalah mata-mata musuhku. Dan ia bisa saja membunuhku dengan mudah. Lalu apa yang harus kulakukan?”
“Panggilah ia secepatnya, lalu bunuhlah. Ini untuk mencegah ia menjalankan rencananya menghancurkan paduka,” katanya.
Raja Yunan segera memberikan perintah untuk memanggil guru Duban. Sang guru datang dengan suka cita dn berkata:
“Semoga Alloh melindungi wahai Sultan. Janganlah kau memanggilku untuk mengucapkan rasa terima kasihmu lagi dan memberiku limpahan hadiah. Kini saatnya aku untuk memberikan baktiku. Katakanlah duhai Sultan, apa yang ingin kau perintahkan padaku?”
“Kau tahu kenapa aku memanggilmu?” tanya raja.
“Tidak ada yang mengetahui kata yang belum terucap, selain ia dan Alloh!” katanya.
“Aku memanggilmu untuk meyerahkan nyawamu!” kata raja.
Guru Duban tersentak kaget, “Apakah kesalahanku sehingga aku harus dihukum mati?”
“Ada yang mengatakan bahwa kau adalah mata-mata yang berencana membunuhku. Maka aku harus membunuhmu lebih dulu…” kata raja yang segera memanggil petugas eksekusi untuk memenggal kepala guru Duban.
“Ampuni aku,” kata guru Duban, “maka semoga Alloh akan mengampunimu. Jangan bunuh aku, maka semoga Alloh tidak akan mencelakakanmu!”
‘Ia mengatakannya berkali-kali seperti yang aku lakukan padamu wahai Ifrit, tapi kau tidak mau melepaskanku dan tetap ingin membunuhku,’ kata si nelayan kepada Ifrit.
“Aku tidak akan melepaskanmu karena aku takut kau nanti akan meracuniku. Yang bagimu merupakan sesuatu yang mudah, seperti kau dengan mudah menyembuhkanku,” kata raja Yunan.
“Oh inikah balasanmu atas kebaikanku?” tanya guru Duban.
“Aku harus membunuhmu secepatnya,” kata raja Yunan.
Guru Duban merasa bahwa raja sudah bulat tekadnya, maka ia berkata, “Ijinkan aku mengajukan permohonan terakhir!”
“Baiklah!” kata raja.
“Inikah balasanmu atas kebaikanku? Kau memperlakukanku seperti balas budinya seekor buaya,” kata guru Duban.
“Buaya apa?” tanya raja.
“Aku tidak bisa mengatakannya padamu dengan kondisiku yang seperti ini. Tapi demi Alloh. Ampunilah aku dan semoga Alloh mengampunimu,” tangis guru Duban.
Seorang pejabat istana memberanikan diri berkata, “Oh raja yang bijaksana, tolonglah pikirkan lagi. Hamba berani bersaksi bahwa guru ini tidak pernah melakukan perbuatan untuk menghancurkanmu. Ia bahkan menyembuhkan penyakit yang tuan derita, sementara tabib lain tidak bisa melakukannya.”
“kau tidak tahu apa-apa,” kata raja. “Seperti yang kubilang. Dia bisa menyembuhkanku dengan mudah, maka ia pun dapat membunuhku dengan mudah. Aku hanya membela diriku!”
‘Kini, Oh Ifrit, guru itu tahu bahwa raja sudah bulat dengan keputusannya dan tidak ada jalan baginya untuk menyelamatkan diri.
“Tuan, kematianku sudah tidak bisa ditawar lagi, dan aku menerimanya sebagai takdirku!” kata guru Duban. “Tapi berilah aku sedikit kelonggaran waktu. Ijinkan aku untuk pulang ke rumah terlebih dahulu utnuk membereskan urusanku. Dan untuk berpamitan dengan keluargaku serta memberi mereka amanat. Juga untuk membereskan buku-buku pengobatanku terlebih dulu. Aku memiliki satu buku yang sangat istimewa. Aku akan menghadiahkannya untuk paduka.”
“Buku apa itu?” tanya raja.
“Buku itu berisi banyak hal rahasia yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Salah satunya adalah: jika nanti kepalaku telah dipenggal, dan kau meletakan kepalaku di sebuah tempat, kemudian membuka tiga halaman pertama buku itu dan membaca tiga baris pertamanya, kepalaku akan menjawab apapun yang kau tanyakan,” kata guru Duban.
Raja sangat senang mendengarnya, maka ia mengijinkan guru Duban untuk pulang ke rumahnya dengan pengawalan yang ketat.
Esoknya, kebun istana telah dipenuhi para pejabat termasuk seorang eksekutor yang akan memenggal kepala guru Duban.
Guru Duban datang menghadap dengan membawa sebuah buku tua dan sekantung bubuk putih. Dia meminta sebuah baki lalu menaburkan bubuk itu di atasnya.
“Wahai raja, ambilah buku ini! Jangan kau buka dulu sebelum ekesekutor itu memenggal kepalaku. Segera letakkan kepalaku di atas baki ini. Bubuk ini akan menghentikan pendarahannya. Lalu bukalah buku ini!” katanya. “Tapi tuan, untuk terakhir kalinya aku katakana bahwa aku bukanlah seperti yang kau tuduhkan!”
“Sia-sia saja kau membela diri,” kata raja dan memerintahkan untuk segera mengeksekusi guru Duban.
Segera setelah kepala guru itu terpenggal, raja meletakannya di atas baki dan kemudian membuka lembar pertama buku tersebut. Tapi halaman tersebut ternyata lengket dengan halaman berikutnya. Maka raja menjilat jarinya sehingga dia bisa dengan mudah memisahkan halaman yang lengket tersebut. Raja terus membuka halaman demi halaman, namun tidak ada satu kalimat pun yang tertulis di lembarannya.
“Kenapa tidak ada apapun disini,” tanya raja kepada kepala guru.
“Bukalah terus halamannya,” kata kepala guru.
Raja membuka kembali halaman berikutnya dan terus menjilat jarinya untuk memisahkan halaman demi halaman. Tanpa disadarinya, raja telah menjilat racun yang dengan sengaja dibubuhkan guru Duban di buku tersebut. Semakin banyak halaman yang terbuka, semakin banyak racun yang diisapnya. Dan ketika racun itu bereaksi raja merasa bahwa kepalanya menjadi berat.
“Penguasa!” kata kepala guru Duban. “Waspadalah saat kau menggunakan kekuasaanmu untuk menganiaya orang tak berdosa! Cepat atau lambat, Alloh akan menghukummu atas ketidakadilanmu dan kejahatanmu!”
Raja menjerit hebat sesaat sebelum kepalanya terkulai dan ia pun tewas.
-------
 
Bersambung...

Kisah Seorang Nelayan dan Jin-Bagian 7

Diposting oleh BilaCila di 03.11 0 komentar
Pangeran dan Hantu Pemakan Manusia

Raja yang diceritakan tersebut memiliki seorang putra yang sangat dicintainya. Raja menugaskan seorang Wezir untuk menemaninya kemanapun ia pergi.
Suatu hari pangeran dan wezir pergi berburu ke hutan dengan ditemani serombongan kecil pengawal. Tiba-tiba seekor binatang buas muncul di hadapan mereka. Wezir berseru kepada pangeran, “kejar binatang itu!”
Maka pangeran mengejar binatang itu hingga tanpa ia sadari, ia telah terpisah dari rombongannya.
Binatang itu lari semakin cepat dan menghilang di tengah sabana. Saat itu barulah pangeran menyadari bahwa ia telah tersesat. Di tengah kebingungannya mencari jalan pulang, pangeran melihat seorang gadis yang sedang menangis. Ia menghampirinya dan bertanya siapakah ia.
“Aku adalah seorang putri raja dari India. Saat melewati padang sabana ini, tiba-tiba aku mengantuk dan tertidur sehingga aku jatuh dari kudaku. Begitu kerasnya aku terjatuh, hingga aku langsung tak sadarkan diri. Saat aku siuman, para pendampingku telah pergi dan aku tertinggal di sini,” katanya.
Pangeran merasa iba mendengarnya. Ia lalu membawanya bersamanya. Beberapa saat kemudian saat mereka melewati sebuah reruntuhan, gadis itu berkata, “Oh tuan, ijinkanlah aku untuk turun sebentar.”
Pangeran membantunya turun dan gadis itu segera menuju ke arah reruntuhan tersebut. Pangeran menunggu beberapa saat namun gadis itu tidak kunjung kembali. Karena khawatir terjadi sesuatu dengannya, maka ia memutuskan untuk menyusulnya.
Ia terkejut karena ternyata gadis itu tidak lain adalah hantu pemakan manusia. Ia mendengarnya berkata, “anak-anakku, hari ini aku membawakan kalian seorang pemuda yang gemuk.”
“Bawa kemari segera, oh ibu. Kami sudah tidak sabar untuk memakannya,” kata hantu lainnya.
Pangeran gemetar ketakutan. Ia merasa dia tak akan sanggup melawan dan kali ini ia akan mati. Hantu wanita itu mendekati pangeran yang ketakutan.
“Mengapa kau ketakutan?” tanyanya.
“Aku memiliki musuh yang sangat aku takuti,” jawab pangeran.
“Bukankah kamu seorang pangeran?” tanyanya.
“Ya!”
“Kenapa tidak kau beri saja musuhmu itu uang, lalu berdamai dengannya?” tanyanya.
“Dia bukan tertarik pada uangku, yang ia inginkan hanyalah nyawaku! Aku ini adalah orang yang tak berdaya,” jawab pangeran.
“Kalau kau tidak berdaya, kenapa kau tidak berdoa kepada Alloh dan meminta pertolongan? Dia akan menolongmu menyingkirkan musuhmu itu!” katanya.
Pangeran segera menegadahkan tangannya dan berdoa, “Ya Alloh yang mengabulkan semua doa. Wahai Engkau yang dapat menghalau semua kajahatan, lindungilah aku. Dan jauhkanlah ia yang bermaksud buruk padaku. Karena hanya Engkaulah yang Maha Kuasa…”
Hantu itu tidak bisa lagi mendengar kelanjutan doa pangeran, karena sebuah kekuatan ghaib telah membuatnya menghilang dari hadapan pangeran. Maka pangeran pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu dan pulang ke kerajaannya. Ia melaporkan peristiwa yang dialaminya.
Lalu raja memerintahkan untuk memeberikan hukuman yang berat kepada Wezir yang gagal melindungi putranya.

Kisah Seorang Nelayan dan Jin-Bagian 6

Diposting oleh BilaCila di 02.45 0 komentar
Kisah Suami yang Membunuh Burung Nurinya

Adalah seorang saudagar yang sangat pencemburu. Ia memiliki seorang istri yang sangat cantik. Karena sifat pencemburunya, ia hampir tidak pernah mengijinkan istrinya keluar rumah.
Suatu hari si saudagar harus bepergian selama beberapa hari ke luar kota. Karena ia takut istrinya berbuat macam-macam selama kepergiannya, maka ia pergi ke sebuah took burung dan membeli seekor burung nuri. Ia akan menjadikannya mata-mata, karena burung nuri adalah burung yang sangat pintar dan selalu ingat apapun yang didengarnya. Dia menempatkannya di sebuah sangkar di dalam rumah untuk mengawasi tingkah laku istrinya.
Saat ia pulang dari bepergian, yang pertama dilakukannya adalah menanyai burung nurinya mengenai tingkah laku istrinya.
“Istri tuan memiliki seorang kekasih, yang mengunjungi setiap malam selam tuan tidak ada,” katanya.
Saudagar sangat marah mendengarnya. Ia lantas memanggil istrinya dan memukulinya.

Istri saudagar mengira bahwa salah satu pelayan telah mengadukan rahasianya kepada suaminya. Namun saat ia menanyai mereka, tak ada satupun yang mengakuinya. Salah seorang pelayan mengatakan bahwa ia mendengar burung nuri tuannya yang membocorkan rahasia tersebut.
Pada kesempatan lain, saudagar itu harus kembali pergi ke luar kota. Kali ini si istri memanggil tiga orang pembantunya. Yang seorang diperintahkannya untuk menggosok batu api sepanjang malam di bawah kandang burung nuri, seorang lagi disuruhnya untuk menyiramkan air dari atas kandang si burung, dan yang terakhir disuruhnya untuk memasang papan di sekeliling kandangnya sehingga ia tidak bisa melihat apapun.
Saudagar segera menginterogasi burng nurinya sekembalinya ia dari bepergian.
“Oh tuan,” katanya. “Aku tidak bisa melihat apapun selain gelap dan petir, dan hanya mendengar bunyi guntur dan suara hujan sepanjang malam.”
“Apa maksudmu? Tidak mungkin ada hujan di musim panas,” kata saudagar.
Burung nuri itu bersumpah atas nama Alloh bahwa ia mengatakan yang sebenarnya. Tapi saudagar itu tidak percaya dan dengan marah membanting burung nurinya hingga tewas.

Tapi beberapa waktu kemudian, seorang pelayannya menceritakan hal yang sebenarnya. Awalnya dia tidak mau mempercayainya sampai ia melihat dengan mata kepalanya sendiri istrinya berselingkuh dengan pria lain. Saudagar yang marah, menghunus pedangnya dan membunuh keduanya.
Kini ia menyesal telah meragukan kesaksian burung nurinya dan menyesal telah membunuhnya. Namun apa daya semua telah terlanjur. Burung nurinya tidak mungkin kembali lagi.
Sang Wezir, setelah mendengar cerita raja Yunan berkata, ”Oh rajaku yang agung, apakah maksud tuan dengan menceritakan kisah itu? Apakah tuan berpikir bahwa aku berencana untuk memusuhimu? Tidak, tidak, tuan! Sebaliknya aku memberikan informasi ini karena rasa cintaku kepada tuan dan khawatir dia akan mencuri kebahagiaan tuan. Jika perkataanku tidak benar maka hukumlah aku, seperti raja yang menghukum Wezirnya.”
“Siapakah mereka?” tanya raja.

Dan sang Wezir menjawab….
-------
 
Bersambung...

Kisah Seorang Nelayan dan Jin-Bagian 5

Diposting oleh BilaCila di 02.42 0 komentar
Kisah Raja Dan Burung Elang


‘Wahai Wezirku, dahulu ada seorang Raja bernama Sindibad yang sangat senang berburu. Ia memiliki seekor elang yang sangat disayanginya. Kemanapun ia pergi, ia selalu membawa elangnya di tangan kirinya. Ia bahkan membuatkan sebuah cangkir emas khusus untuk tempat minum elangnya, yang ia kalungkan di leher sang elang. Pagi itu Raja sedang menikmati semilir angin di taman istananya yang indah, saat pelayan yang khusus merawat elangnya datang menghadap.
“O Raja yang mulia, hari ini adalah saat yang tepat untuk berburu.”
Tanpa menjawab, Raja bangkit dan memanggil elang kesayangannya dengan sebuah suitan. Sang elang segera hinggap di tangan kiri Raja Sindibad.

Rombongan Raja Sindibad tiba di hutan tempat mereka biasa berburu. Sebuah perangkap berupa jaring besar telah dipasang dan tidak berapa lama seekor kijang terperangkap di dalamnya.
“Jangan biarkan kijang itu lepas,” teriak raja pada para pengawal yang sedang melepaskan kijang itu dari jaring. “Kalau sampai kijang itu lepas, aku akan memenggal leher orang yang menyebabkannya. Siapapun ia!”

Para pengawal membawa jaring berisi kijang itu ke hadapan Raja. Tiba-tiba kijang itu membungkukkan badannya seolah-olah ia sedang memberi hormat kepada Raja. Raja Sindibad membalasnya dan WUTT !! dengan satu kali lompatan kijang itu melompati Raja Sindibad dan melarikan diri. Para pengawal mulai berbisik-bisik. “Apa yang mereka bicarakan? Apakah mereka membicarakanku?” tanya Raja kepada Wezirnya.
“Mereka sedang membicarakan perkataan Tuan yang tadi, yaitu bahwa Tuan akan memenggal leher siapapun yang menyebabkan kijang itu lepas,” jawab Wezir.
“Demi Tuhan, aku akan mengejar kijang itu kemanapun ia pergi dan membunuhnya!” teriak Raja murka.

Ia segera menaiki kudanya dan memacunya mengikuti jejak-jejak kaki kijang buruannya hingga mereka semua tiba di kaki sebuah bukit dimana kijang itu tersudut. Elang kesayangan Raja menyerang kijang dan mematuk matanya hingga buta. Lalu Raja melepaskan anak panahnya dan tepat mengenai jantung kijang. Seorang pengawal segera menyembelih kijang itu sebelum ia mati. Raja Sindibad lega karena telah berhasil menyelamatkan lehernya sendiri. Raja memutuskan untuk menghentikan perburuan karena mereka telah sangat jauh memasuki hutan. Para pengawal menaikkan hasil buruan ke atas kuda dan mereka bertolak untuk kembali ke istana.
Matahari begitu terik hari itu. Raja merasa sangat kehausan. Sayang, air perbekalan mereka telah habis. Raja terpaksa harus menahan rasa kering di tenggorokannya.
“Tuan Raja. Di depan ada mata air!” teriak seorang pengawal.
Di tempat yang ditunjuk si pengawal, tampak tetesan-tetesan air dari sebatang pohon besar yang berkumpul membentuk mata air.
Raja turun dari kudanya, mengambil cangkir emas dari leher elangnya lalu mengisinya dengan air. Ia hampir meminumnya ketika elang kesayangannya menyenggol cangkir di tangannya hingga terbalik.
“Mungkin ia sangat kehausan,” pikir Raja.
Raja mengisi kembali cangkirnya dan menyodorkannya kepada elang. Elang itu menolak, menyepaknya dengan cakarnya hingga air di cangkir itu tumpah. Raja mulai kesal tapi ia menahan amarahnya dan kembali mengisi cangkir tersebut. Ia menyodorkan air itu ke kudanya. Lagi-lagi elangnya menumpahkannya.
“Demi Alloh, engkau adalah binatang pembawa sial!” teriak Raja marah.
Ia menghunus pedangnya dan menyabet sayap elang kesayangannya hingga putus. Elang yang malang itu memberi isyarat kepada Raja menunjuk ke atas pohon dengan paruhnya. Dan tampaklah oleh Raja, di atas pohon itu tergantung bangkai ular yang sangat besar. Dari mulutnya menetes bisanya yang beracun dan bercampur dengan mata air yang hendak diminumnya.

Raja jatuh terduduk. Ia memeluk elang kesayangannya dengan penuh penyesalan. Air matanya jatuh dan untaian kata penyesalan berhamburan dari mulutnya. Raja membawa elang dalam dekapannya secepatnya ke istana untuk mendapatkan pertolongan. Sayang, sang elang kehilangan banyak darah dan ia mati dalam dekapan Raja.
Wezirku! Sekuat apapun Raja Sindibad menyesali perbuatannya, elang kesayangannya tak pernah bisa kembali. Dan aku takut wahai Wezirku, penyesalan yang sama akan datang padaku juga seperti kisah seorang suami yang membunuh burung nuri kesayangannya.’ Kata Raja Yunan.
“Seperti apa kisahnya, Rajaku?” tanya Wezir.
“Begini…”

-------
 
Bersambung...

Kisah Seorang Nelayan dan Jin-Bagian 4

Diposting oleh BilaCila di 02.30 0 komentar
Kisah Raja Yunan dan Guru Duban
‘Dengarlah wahai Ifrit, dahulu kala di sebuah negeri benama Yaman di daratan Persia ada seorang raja bernama raja Yunan. Sebenarnya dia adalah keturunan Yunani. Beliau sangat kaya raya dan terkenal dengan keberaniannya. Sayang dia menderita penyakit kusta yang tidak kunjung sembuh. Puluhan tabib telah dipanggilnya, namun tidak ada satu obat pun yang bisa menghilangkan kusta dari tubuhnya.
Suatu hari datanglah di negeri itu seorang guru bernama Duban. Dia sudah mendalami berbagai ilmu dari Yunani kuno sampai yunani modern, dari Persia hingga syiria. Dia ahli dalam pengobatan maupun astrologi. Keahliannya membuat kagum tabib-tabib lainnya dan juga para ilmuwan.
Ketika guru Duban mendengar tentang penyakit yang diderita raja Yunan, dia bermaksud untuk mencoba mengobatinya. Maka dipelajarilah kembali berbagai buku untuk mencari obat yang paling manjur.

Esoknya dia menghadap raja Yunan. Setelah memberikan penghormatan, disampaikanlah maksud kedatangannya yaitu untuk mengobati penyakit kusta raja.
“Tuanku, saya dengar bahwa belum ada satu tabib pun yang bisa menyembuhkan penyakit paduka. Jika paduka mengijinkan InsyaAlloh saya bisa menyembuhkannya tanpa obat ataupun salep!” katanya.
“Bagaimana caranya? Demi Alloh, jika kamu bisa menyembuhkanku, aku akan memberikan apapun yang kau mau Harta yang banyak untukmu dan anak cucumu, dan kamu akan kujadikan penasihat dan sahabat terbaikku” kata raja
“InsyaAlloh saya bisa menyembuhkan paduka. Besok saya akan mulai pengobatannya,” kata tabib Duban. Kemudian ia memohon diri untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Guru Duban kemudian membuat sebuah stik golf yang diberi lubang di pegangannya. Di lubang itulah tabib Duban memasukan obat racikannya. Kemudian ia juga membuat sebuah bola sebagai pelengkapnya.
Keesokan harinya guru Duban kembali menghadap raja. Dia mengajak raja ke lapangan istana. Kemudian memberi raja stik golf buatannya dan sebuah bola. Dimintanya raja untuk memukul bola tersebut sambil menunggang kuda.
“Pukullah bolanya dengan sekuat tenaga. Saat badan paduka berkeringat, maka panas tubuh bafinda akan membuat obat yang ada di dalam stik golf ini ke seluruh tubuh paduka. Setelah itu paduka boleh kembali ke istana untuk mandi air hangat. Pastikan untuk menggosok tubuh paduka hingga bersih. Lalu istirahatlah. InsyaAlloh besok penyakit baginda akan sembuh,” katanya.
Raja Yunan lalu melakukan semua saran guru Duban.

Ketika raja terbangun keesokan paginya, dia melihat bahwa kulitnya telah halus. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia pernah menderita kusta. Kulitnya putih bersih tanpa noda.
Raja sangat bersuka cita. Dia segera memerintahkan utusan untuk menjemput tabib Duban ke istana. Sambil berkali-kali mengucapkan rasa terima kasihnya, raja memberikan berkantung-kantung emas, lusinan pakaian-pakaian mewah dan hadiah-hadiah lainnya. Sesuai janjinya raja juga mengangkat guru Duban menjadi penasihat pribadinya dan mendudukannya di samping singgasananya.

Di antara pejabat kerajaan, ada seorang Wezir yang menaruh benci terhadap tabib Duban. Dia cemburu dengan semua perhatian dan kebaikan raja terhadap guru Duban.
Suatu hari sang Wazir menghadap raja secara pribadi.
“Wahai paduka raja yang adil, hambamu ini ingin menyampaikan sebuah nasihat untuk paduka. Saya akan menjadi orang terkutuk jika tidak menyampaikannya pada paduka,” katanya.
Raja terkejut mendengarnya dan bertanya, “nasihat apa?”
“Oh paduka yang mulia. Para leluhur pernah berkata, ‘Barangsiapa yang tidak bisa melihat tujuan, keberuntungan tidak akan datang padanya. Dan kini saya melihat raja sedang membuat kekeliruan. Sejak ia menganugerahi seorang musuh dengan kebaikan. Seorang musuh yang menginginkan kerajaan ini hancur. Dia menganugerahinya kebaikan, kekuasaan dan menjadikannya penasihatnya,” katanya.
“Siapakah teman yang kau maksud itu?” tanya raja.
“Paduka, tentu saja yang saya maksud adalah penasihat paduka, guru Duban!” kata wazir.
“Dia adalah teman terbaikku,” kata raja. “Dan dialah yang telah menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh tabib lain. Karena dialah aku bisa menyingkirkan rasa malu yang dulu menderaku karena penyakitku. Aku tidak akan menemukan orang sehebat dia di seluruh negeri. Tapi kenapa kau menentangnya? Aku telah memerintahkan pegawaiku, untuk memberikannya gaji 1000 keping emas setiap bulannya, dan bahkan jika aku memberikan sebagian kerajaanku padanya, masih tidak akan cukup mewakili rasa terima kasihku.”
"Oh tuanku, bagaimana kau yakin bahwa dia tidak menipumu? Sesungguhnya aku mengatakan hal ini karena rasa baktiku padamu," kata Wezir.
“Benarkah tidak ada maksud lain dari perkataanmu ini wahai Wezir? Aku takut kau melakukan ini karena rasa cemburu. Jika aku mengikuti nasihatmu, aku takut aku akan menyesal seperti seorang suami yang membunuh burung kakak tuanya. Aku akan menceritakan kisahnya padamu.” Kata raja.

Maka oh Ifrit, raja pun memulai ceritanya…
-------
 
Bersambung...
 

Tutorial Seru Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting