"Abu Nawas, tolong bantu aku. Kambing kesayanganku hilang sejak kemarin. Aku sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tidak ketemu," katanya.
Abu Nawas mengangguk pelan. "Baiklah, ceritakan semuanya."
Petani itu lalu menjelaskan bahwa kambingnya sering digembalakan di padang rumput dekat desa. Namun, kemarin sore kambing itu tidak pulang bersama kambing-kambing lainnya.
Kabar hilangnya kambing itu akhirnya sampai ke telinga Baginda Raja. Karena penasaran dengan kecerdikan Abu Nawas, Raja memanggilnya ke istana.
"Abu Nawas," kata Raja, "jika kau memang cerdas, temukan kambing itu."
Abu Nawas tersenyum. "Hamba akan mencoba, Baginda."
Keesokan harinya, Abu Nawas mengumpulkan seluruh warga desa di lapangan. Ia membawa sebuah tongkat dan berkata dengan lantang,
"Di antara kalian ada yang mengetahui keberadaan kambing itu. Tongkat ini sangat ajaib. Besok pagi, tongkat milik pencuri akan bertambah panjang satu jari."
Mendengar itu, semua orang yang hadir terkejut. Padahal sebenarnya tongkat itu hanyalah tongkat biasa.
Setiap orang diberi tongkat dengan ukuran yang sama dan diminta membawanya pulang semalam.
Seorang pencuri yang memang mencuri kambing itu menjadi ketakutan. Sepanjang malam ia gelisah memikirkan tongkat ajaib tersebut.
"Aduh, kalau tongkatku benar-benar bertambah panjang, aku pasti ketahuan," pikirnya.
Karena takut, ia memotong tongkatnya satu jari sebelum pagi tiba.
Keesokan harinya, semua warga kembali berkumpul. Abu Nawas memeriksa tongkat satu per satu.
Tak lama kemudian ia tersenyum.
"Nah, ketemu."
Semua orang heran.
"Siapa pencurinya?" tanya Raja yang ikut menyaksikan.
Abu Nawas menunjuk seorang pria di sudut lapangan.
"Dialah orangnya. Lihat, tongkatnya justru lebih pendek satu jari dibanding yang lain."
Pria itu langsung pucat dan akhirnya mengaku telah mencuri kambing tersebut.
Raja tertawa kagum. "Tongkat itu ternyata tidak ajaib sama sekali!"
"Tidak, Baginda," jawab Abu Nawas. "Yang ajaib adalah rasa takut orang yang bersalah."
Kambing itu pun dikembalikan kepada pemiliknya, sementara warga desa kembali belajar bahwa kejujuran selalu lebih baik daripada kebohongan.
Pesan moral: Orang yang berbuat salah sering kali terjebak oleh ketakutannya sendiri, sedangkan kejujuran membawa ketenangan hati.



0 komentar:
Posting Komentar