Minggu, 07 Juli 2013

Abu Nawas Menang Lomba Berburu

Diposting oleh BilaCila di 00.27

Pada suatu pagi yang cerah, Raja Harun Ar-Rasyid berangkat berburu bersama para pengawal dan pejabat istana. Mereka menunggang kuda menuju hutan yang letaknya tidak jauh dari kerajaan.




Di tengah perjalanan, seorang pejabat bernama Abu Jahil datang menyusul dengan kudanya. Napasnya terengah-engah seolah sedang terburu-buru.




Baginda.Baginda.hamba mempunyai sebuah usul, katanya sambil membungkuk hormat.
“Apa usulmu, Abu Jahil?” tanya Raja.
Dengan wajah serius, Abu Jahil menjawab, "Agar kegiatan berburu ini lebih menarik dan menjadi hiburan bagi rakyat, bagaimana jika kita mengadakan sayembara berburu?"
Raja Harun Ar-Rasyid mengangguk setuju.
“Lalu siapa yang akan ikut sayembara itu?” tanya Raja.





"Hamba ingin beradu ketangkasan dengan Abunawas.Siapa yang memperoleh buruan paling banyak akan menjadi pemenang dan mendapat sepundi uang emas. Sedangkan yang kalah harus memandikan seluruh kuda istana selama satu bulan."
Raja tersenyum mendengar usul tersebut. Ia merasa sayembara itu akan menjadi hiburan yang menyenangkan.
“Baiklah, usulmu diterima,” kata Raja.
Abu Jahil Menyiapkan Tipu Muslihat.





Tak lama kemudian, Abunawas dipanggil
menghadap Raja. Setelah mendengar penjelasan tentang sayembara itu, ia langsung mengerti bahwa Abu Jahil sedang berusaha membujuknya.
Awalnya Abunawas ingin menolak. Ia tahu Abu Jahil pasti sudah menyiapkan berbagai cara untuk memenangkan perlombaan. Namun karena Raja telah memutuskan, Abunawas tidak bisa menolak.
Dalam hati, Abunawas berpikir.
“Abu Jahil sekarang menjadi pejabat kerajaan. Tentu banyak orang yang akan membantu mendapatkan hasil buruan sebanyak mungkin.”
Akan tetapi, bukannya khawatir, Abunawas malah tersenyum. Senyum itu membuat Abu Jahil penasaran.
"Kenapa dia terlihat begitu tenang? Apa dia punya rencana?" pikir Abu Jahil.
Sayembara Ind
Keesokan harinya, seluruh rakyat berkumpul di alun-alun istana untuk menyaksikan perlombaan.
Raja Harun Ar-Rasyid duduk di tempat terhormat. Di sana berdiri para pengawal kerajaan.
Ketika terompet dibunyikan sebagai tanda dimulainya perlombaan, Abu Jahil langsung memacu kudanya sekencang mungkin menuju hutan.
Sebaliknya, Abunawas berjalan santai. Ia tidak tampak terburu-buru sedikit pun.
Melihat itu, banyak penonton yang tertawa.
"Bagaimana mungkin Abunawas bisa menang kalau berjalannya saja seperti itu?" kata mereka.
Abu Jahil Pulang dengan Bangga
Menjelang sore, Abu Jahil kembali ke istana.
Sambutan meriah langsung terdengar. Di kanan dan kiri kudanya tergantung berbagai hewan hasil buruan.
Ada kelinci, rusa, dan babi hutan.
Dengan penuh kebanggaan, Abu Jahil berdiri di tengah lapangan.
"Aku pasti menjadi pemenangnya!" serunya. "Lihatlah hasil buruanku! Mana mungkin Abunawas bisa mengalahkanku?"
Rakyat bertepuk tangan melihat banyaknya hewan yang berhasil ia bawa.
Kedatangan Abunawas
Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kuda dari jarak jauh.
Abunawas akhirnya tiba.
Namun, semua orang terkejut karena dia tidak membawa seekor binatang pun.
Gelak tawa pun pecah di seluruh lapangan.
"Abunawas pasti kalah!"
"Dia pulang dengan tangan kosong!"
Tetapi Abunawas tetap tenang. Ia bahkan tersenyum dan menunjuk tangan kepada para penonton.





Perhitungan Hasil Buruan, Raja lalu memerintahkan dua orang pengawal untuk menghitung hasil buruan kedua peserta.
Mereka terlebih dahulu menghitung milik Abu Jahil.
“Saya menemukan tiga puluh lima ekor kelinci, lima ekor rusa, dan dua ekor babi hutan,” lapor salah seorang pengawal.
Abu Jahil langsung bersorak.
"Nah, sekarang jelas! Akulah pemenangnya!"
Namun Abunawas segera mengangkat tangannya.
"Tunggu dulu. Aku juga membawa hasil buruan."
Semua orang saling berpandangan dengan heran.
"Di mana hasil buruanmu?" tanya Raja.
Dengan tenang, Abunawas mengambil sebuah bambu kuning yang dibawanya sejak tadi.
Lalu ia membuka tutupnya.
Seketika, ribuan semut merah keluar dan berlarian ke segala arah.
Kemenangan yang Tak Terduga
Para pengawal mencoba menghitung jumlah semut itu. Namun semakin dihitung, semakin banyak yang terlihat.
Akhirnya mereka menyerah.
"Baginda, jumlah semut ini terlalu banyak. Mungkin ribuan ekor. Kami tidak dapat menghitungnya satu per satu."
Abunayas tersenyum.
"Bukankah aturan lombanya adalah siapa yang membawa binatang paling banyak akan menjadi pemenang? Tidak disebutkan bahwa binatang itu harus besar. Semut juga termasuk binatang."
Mendengar penjelasan itu, seluruh rakyat terdiam sesaat.
Lalu mereka tertawa terbahak-bahak.
Raja Harun Ar-Rasyid bahkan tertawa hingga memegangi kedalaman.




Sementara itu, wajah Abu Jahil berubah pucat. Ia tidak mampu berkata apa-apa lagi. Karena malu dan kecewa, ia langsung jatuh pingsan di tengah lapangan.
Hikmah Cerita
Raja kemudian menyerahkan hadiah kemenangan kepada Abunawas.
Abu Jahil pun harus menerima hukuman pemandikan seluruh kuda istana selama satu bulan penuh.
Sejak saat itu, semua orang semakin kagum pada kecerdikan Abunawas.




Pesan moral: Kecerdikan yang digunakan dengan niat baik dapat mengalahkan kelicikan dan kesombongan. Jangan pernah meremehkan orang lain hanya karena terlihat sederhana atau tenang.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Tutorial Seru Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting