Minggu, 07 Juli 2013

Abu Nawas - Tipuan Bodoh Kalahkan Tuan Tanah Pelit

Diposting oleh BilaCila di 00.30
Hari keenam bulan Ramadhan hampir tiba. Menjelang waktu berbuka, Abu Nawas duduk santai di beranda gubuknya. Sambil memandangi langit yang mulai berwarna jingga, ia berpikir keras mencari cara agar dapurnya tetap mengepul dan keluarganya bisa makan dengan layak.

Di desa tempat tinggal Abu Nawas, ada seorang tuan tanah yang sangat kaya. Rumahnya besar dan megah. Gudang-gudangnya penuh dengan bahan makanan, peternakannya luas, dan tanahnya membentang ke mana-mana.

Namun, kekayaan itu tidak membuatnya menjadi orang yang baik hati. Ia terkenal pelit, Tamak, dan suka mengambil keuntungan dari kesulitan orang lain. Hampir semua warga desa bekerja untuknya dengan upah yang sangat kecil. Jika ada yang meminjam uang, mereka harus mengembalikannya dengan bunga yang tinggi.

Suatu hari, tuan tanah itu mendengar kabar aneh tentang Abu Nawas.

Konon, setiap barang yang dipinjamkan Abu Nawas akan "beranak" saat dikembalikan. Jika meminjam seekor ayam, ia akan mengembalikan dua ekor. Jika membeli sesuatu, jumlahnya selalu bertambah.

Mendengar hal itu, mata tuan tanah langsung berbinar.

“Kalau begitu, aku harus membuat Abu Nawas meminjam barang dariku,” pikirnya serakah.

Tak lama kemudian, kesempatan itu datang.

Menjelang berbuka puasa, Abu Nawas datang ke rumah tuan tanah dan berkata,

"Tuan, bolehkah saya meminjam tiga butir telur?"

Tuan tanah sangat senang.

"Tentu saja! Hanya tiga butir? Tidak mau meminjam yang lain?" tanyanya.

“Tidak perlu, Tuan. Tiga butir saja sudah cukup.”

Sebelum Abu Nawas pulang, tuan tanah bertanya lagi,

“Kapan telur-telur itu akan beranak?”

Abu Nawas tersenyum.

"Itu tergantung keadaannya, Tuan."

Lima hari kemudian, Abu Nawas datang mengembalikan pinjamannya.

Namun, yang dikembalikannya bukan tiga butir telur, melainkan lima butir.

“Telur-telur Tuan telah beranak dua,” katanya.

Betapa senangnya tuan tanah mendengar hal itu. Dalam hatinya ia mulai membayangkan keuntungan yang lebih besar lagi.

Beberapa hari kemudian, Abu Nawas kembali meminjam.

Kali ini ia meminjam dua buah piring tembikar.

Tuan tanah dengan senang hati memberikannya. Ia berharap kedua piring itu juga akan beranak banyak.

Lima hari berlalu.

Abu Nawas datang lagi dan mengembalikan tiga buah piring.

“Dua piring Tuan telah mempunyai satu anak,” katanya.

Meski jumlahnya tidak sebanyak yang dibayangkan, tuan tanah tetap merasa senang.

"Tak apa," pikirnya. "Ada keluarga yang hanya punya satu anak."

Sejak saat itu, ia semakin percaya pada cerita tentang barang yang bisa beranak.

Keserakahannya pun semakin besar.

Suatu hari, tanpa diminta, ia menawarkan pinjaman uang kepada Abu Nawas.

"Kalau begitu, pinjamlah uang dariku. Seribu dinar!"

Jumlah itu sangat besar. Bahkan cukup untuk membayar gaji seluruh pekerjanya selama sebulan.

Abu Nawas menerima pinjaman tersebut.

Tuan tanah pun menunggu dengan penuh harapan. Ia membayangkan uang seribu dinar itu akan beranak menjadi dua ribu, tiga ribu, bahkan lebih.

Lima hari berlalu.

Abu Nawas tidak datang.

Sepuluh hari berlalu.

Masih tidak datang.

Hingga hampir satu bulan kemudian, Abu Nawas akhirnya muncul di depan rumah tuan tanah.

Awalnya sang tuan tanah sangat gembira.

Namun kegembiraan itu berubah menjadi kemarahan setelah mendengar penjelasan Abu Nawas.

Dengan wajah sedih, Abu Nawas berkata,

"Maaf sekali, Tuan. Uang yang saya pinjam tidak sempat beranak."

"Mengapa?" bentak tuan tanah.

"Tiga hari setelah saya bawa pulang, uang itu mati tiba-tiba."

Mendengar jawaban tersebut, wajah tuan tanah merah padam karena marah.

"Dasar penipu! Mana ada uang bisa mati!" teriakannya.

Ia bahkan hampir menyuruh para centengnya memukuli Abu Nawas. Untung saja beberapa warga yang mengenal Abu Nawas segera datang dan mencegahnya.

Karena tidak terima, tuan tanah membawa perkara itu ke pengadilan.

Ia berharap Abu Nawas dihukum berat.

Hari kontraksi pun tiba.

Di hadapan hakim, tuan tanah menceritakan semuanya dengan penuh amarah. Setelah itu Abu Nawas mendapat giliran berbicara.

Dengan tenang ia menjelaskan,

"Yang Mulia, ketika saya mengembalikan telur lebih banyak dari jumlah yang saya pinjam, Tuan ini percaya bahwa telur bisa beranak."

"Ketika saya mengembalikan piring lebih banyak, saya juga percaya bahwa piring bisa beranak."

“Kalau benda-benda itu bisa beranak, bukankah masuk akal jika suatu hari benda-benda itu juga bisa mati?”

Seluruh ruang sidang menjadi hening.

Hakim berpikir sejenak, lalu tersenyum.

Akhirnya ia memutuskan bahwa alasan Abu Nawas sesuai dengan logika yang selama ini dipercaya oleh sang tuan tanah sendiri.

“Jika sesuatu dapat beranak, maka menurut keyakinan itu, sesuatu juga dapat mati,” kata hakim.

Tuan tanahnya. Ia tidak bisa membantah.

Semua orang di ruang sidang mengerti bahwa yang membuatnya tertipu bukanlah kecerdikan Abu Nawas semata, melainkan keserakannya sendiri.

Sejak hari itu, warga desa semakin mengagumi kecerdikan Abu Nawas. Sementara sang tuan tanah mendapat pelajaran berharga bahwa ketamakan sering kali membuat seseorang kehilangan akal sehatnya.

Pesan moral: Keserakahan dapat membutakan pikiran. Orang yang terlalu tamak sering kali terjebak oleh keinginannya sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Tutorial Seru Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting