Minggu, 07 Juli 2013

Abu Nawas Paling Kaya Raya

Diposting oleh BilaCila di 00.21
Sebagai rakyat biasa, Abu Nawas sering menyampaikan kritik dengan cara yang lucu. Karena dibungkus humor, perkataannya tetap mengena, tetapi tidak mudah membuat orang marah.



Suatu hari, Abu Nawas berdiri di tengah pasar yang ramai. Tiba-tiba ia berkata dengan suara lantang,
"Wahai kawan-kawan! Hari ini aku membenci perkara yang haq (benar), tetapi menyukai fitnah. Bahkan, hari ini aku merasa lebih kaya daripada Allah SWT!"

Orang-orang yang mendengarnya langsung terkejut. Mereka mengenal Abu Nawas sebagai orang yang saleh dan berilmu.
Karena ucapannya terdengar aneh dan berbahaya, para penjaga kerajaan segera menangkapnya dan membawanya menghadap khalifah.




Sesampainya di istana, khalifah bertanya,
"Abu Nawas, benarkah kamu mengatakan semua itu?"
"Benar, Khalifah," jawab Abu Nawas dengan tenang.
"Mengapa kamu berkata seperti itu? Apakah kamu sudah kafir?"
Abu Nawas tersenyum.
"Saya kira Khalifah juga sama seperti saya. Khalifah pasti membenci perkara yang haq."
Mendengar jawaban itu, khalifah mulai kesal.
"Jangan bicara sembarangan! Sebagai seorang muslim, aku harus membela yang haq, bukan membencinya!"
"Jangan marah dulu, Khalifah. Dengarkan penjelasan saya," kata Abu Nawas.
"Baiklah, jelaskan!"




Abu Nawas lalu berkata,
"Setiap kali ada orang meninggal, kita sering mendengar bahwa kematian itu haq, artinya pasti terjadi. Bukankah Khalifah juga tidak menyukai kematian? Saya pun begitu. Karena itulah saya mengatakan membenci perkara yang haq."
Khalifah mengangguk pelan.
"Hmm... ada benarnya juga. Lalu apa maksudmu menyukai fitnah?"




Abu Nawas menjawab,
"Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa harta dan anak-anak adalah fitnah, yaitu ujian bagi manusia. Namun bukankah kita semua menyukai harta dan anak-anak? Saya menyukainya, dan saya yakin Khalifah juga menyukainya."
Khalifah tersenyum tipis.
"Baiklah. Tapi bagaimana dengan ucapanmu yang mengatakan lebih kaya daripada Allah?"




Abu Nawas menjawab dengan tenang,
"Saya mempunyai anak, sedangkan Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Itulah yang saya maksud."
Jawaban itu membuat semua orang di ruangan terdiam sejenak.
"Tetapi mengapa kamu harus mengatakan semua itu di tengah pasar hingga membuat kehebohan?" tanya khalifah.




Abu Nawas tersenyum lebar.
"Karena saya tahu kalau saya berkata seperti itu, pasti akan ditangkap dan dibawa menghadap Khalifah."
"Lalu untuk apa kamu ingin menghadapku?"
"Agar mendapatkan hadiah dari Khalifah," jawab Abu Nawas tanpa ragu.
Mendengar jawaban itu, khalifah dan seluruh orang yang hadir langsung tertawa. Suasana sidang yang tadinya tegang berubah menjadi penuh gelak tawa.




Khalifah pun memberikan beberapa dinar sebagai hadiah kepada Abu Nawas.
Dengan senang hati Abu Nawas menerima hadiah itu, memasukkannya ke dalam saku, lalu berjalan keluar istana.
"Alhamdulillah, dapat rezeki," gumamnya sambil tersenyum.




Pesan cerita: Kecerdasan Abu Nawas terletak pada kemampuannya memainkan makna kata. Ia tidak berbohong, tetapi menggunakan sudut pandang yang berbeda sehingga perkataannya terdengar mengejutkan sekaligus mengandung pelajaran.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Tutorial Seru Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting