Minggu, 07 Juli 2013

Abu Nawas Melawan Arus

Diposting oleh BilaCila di 00.25


Abu Nawas adalah seorang cendekiawan keturunan Persia yang lahir di Ahwaz pada tahun 750 M. Sejak muda ia gemar menuntut ilmu. Ia pernah tinggal di Basrah dan Kufah, tempat ia belajar bahasa Arab, sastra, dan budaya masyarakat Arab Badui. Karena kecerdasannya, Abu Nawas dikenal pandai bersyair, berpantun, dan menyanyi.
Setelah dewasa, ia tinggal di Baghdad bersama ayahnya yang bernama Syeikh Maulana, seorang penghulu atau kadi kerajaan pada masa pemerintahan Sultan Harun Al-Rasyid.
Suatu hari, Syeikh Maulana jatuh sakit keras. Menjelang ajalnya, ia memanggil Abu Nawas.
"Anakku, ciumlah kedua telingaku," katanya.
Abu Nawas menuruti permintaan itu. Ia terkejut karena telinga kanan ayahnya berbau harum, sedangkan telinga kiri berbau sangat busuk.
"Ayah, mengapa bisa begitu?" tanyanya.
Syeikh Maulana menjelaskan, "Ketika menjadi kadi, aku pernah mendengarkan keluhan seseorang dengan penuh perhatian. Itulah yang membuat telinga kananku harum. Namun, aku juga pernah mengabaikan keluhan orang lain hanya karena aku tidak menyukainya. Itulah sebabnya telinga kiriku berbau busuk."
Kemudian ia berpesan, "Menjadi kadi bukanlah pekerjaan yang ringan. Jika kau tidak ingin menjadi kadi setelah aku meninggal, carilah cara agar Sultan tidak memilihmu."
Tak lama kemudian, Syeikh Maulana meninggal dunia.
Abu Nawas melaksanakan seluruh prosesi pemakaman ayahnya dengan baik. Melihat kepandaiannya, Sultan Harun Al-Rasyid berniat mengangkatnya sebagai kadi menggantikan ayahnya.
Namun Abu Nawas teringat pesan terakhir sang ayah.
Sejak hari itu ia mulai bertingkah aneh.
Ia menunggangi batang pisang sambil berpura-pura seperti sedang menunggang kuda. Ia berlari-lari dari makam ayahnya menuju rumah sambil tertawa sendiri.
Orang-orang yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Kasihan Abu Nawas," kata mereka. "Ia pasti gila karena ditinggal ayahnya."
Kelakuannya semakin aneh. Suatu hari ia mengajak anak-anak kecil bermain rebana dan bersuka ria di sekitar makam ayahnya. Kabar kegilaannya pun cepat menyebar ke seluruh Baghdad.
Sultan mendengar kabar itu dan mengirim beberapa wazir untuk memanggil Abu Nawas ke istana.
Namun Abu Nawas menolak.
Bahkan ia menyerahkan sebatang pohon pisang kepada para wazir sambil berkata, "Tolong mandikan kudaku ini di sungai!"
Para wazir semakin yakin bahwa Abu Nawas benar-benar tidak waras.
Mereka melapor kepada Sultan.
Karena kesal, Sultan memerintahkan para pengawal membawa Abu Nawas ke istana secara paksa.
Di hadapan Sultan, Abu Nawas tetap bertingkah aneh. Ia berbicara tidak jelas dan menjawab pertanyaan Sultan dengan hal-hal yang tidak nyambung.
Akhirnya Sultan marah.
"Pengawal! Beri dia dua puluh lima kali pukulan!"
Perintah itu segera dilaksanakan. Setelah dihukum, Abu Nawas pulang dengan tubuh penuh rasa sakit.
Di gerbang kota, seorang penjaga menghentikannya.
"Hai Abu Nawas! Dulu kau pernah berjanji. Jika mendapat hadiah dari Sultan, kau harus membaginya denganku."
Abu Nawas tersenyum.
"Oh, tentu saja. Bahkan akan kuberikan semuanya kepadamu."
Penjaga itu sangat senang.
Tanpa banyak bicara, Abu Nawas mengambil sebatang kayu dan memukul penjaga itu dua puluh lima kali.
"Aduh! Mengapa kau memukulku?" teriak penjaga.
"Dua puluh lima pukulan adalah hadiah yang baru saja kuterima dari Sultan. Bukankah kau meminta bagianmu?" jawab Abu Nawas.
Penjaga itu segera mengadu kepada Sultan.
Ketika dipanggil ke istana, Abu Nawas menjelaskan semuanya. Sultan lalu bertanya kepada penjaga gerbang apakah benar mereka pernah membuat perjanjian seperti itu.
Penjaga itu mengangguk malu.
Mendengar penjelasan tersebut, Sultan tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Rupanya kau sendiri yang terjebak oleh keserakahanmu!"
Sultan pun memaafkan Abu Nawas dan malah menghadiahinya sekantong uang perak.
Meski demikian, Abu Nawas terus berpura-pura gila selama berbulan-bulan.
Akhirnya para menteri menyarankan Sultan untuk memilih orang lain sebagai kadi.
Sultan setuju.
Begitu mendengar kabar itu, Abu Nawas mengucap syukur.
"Alhamdulillah. Aku akhirnya terbebas dari jabatan yang berat itu."
Ternyata selama ini Abu Nawas hanya berpura-pura gila agar tidak diangkat menjadi kadi. Ia teringat pesan ayahnya bahwa jabatan tersebut penuh tanggung jawab dan risiko. Seorang kadi harus adil kepada semua orang tanpa memandang siapa pun.
Walaupun tidak menjadi kadi, Abu Nawas tetap dikenal sebagai orang yang bijaksana. Sultan Harun Al-Rasyid sering meminta pendapatnya untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang sulit.
Pesan Moral
Jabatan adalah amanah yang berat. Jangan mengejar kedudukan hanya karena ingin dihormati.
Keadilan harus diberikan kepada semua orang tanpa pilih kasih.
Kecerdasan tidak selalu ditunjukkan dengan kekuatan, tetapi dengan akal dan kebijaksanaan.
Keserakahan sering kali menjadi bumerang bagi diri sendiri.
Orang bijak memahami batas kemampuannya dan tidak memaksakan diri menerima tanggung jawab yang tidak diinginkannya.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Tutorial Seru Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting