Minggu, 07 Juli 2013

Abu Nawas dan Mahkota dari Surga

Diposting oleh BilaCila di 00.31


Pada suatu hari, ada hal yang tidak biasa dilakukan oleh Baginda Raja. Tiba-tiba beliau ingin menyamar menjadi rakyat biasa. Baginda ingin melihat langsung kehidupan masyarakat diketahui tanpa siapa pun agar bisa bergerak dengan lebih bebas.
Maka, Baginda pun keluar dari istana dengan pakaian sederhana seperti rakyat jelata. Beliau berjalan melintasi jalan-jalan kampung hingga tiba di sebuah perkampungan yang tampak ramai. Beberapa orang sedang berkumpul mengelilingi seorang ulama yang sedang memberikan ceramah tentang alam barzah.
Karena penasaran, Baginda ikut duduk dan mendengarkan.
Tak lama kemudian, datanglah seorang laki-laki yang bergabung dengan kepadatan itu. Ia mengangkat tangan dan bertanya kepada sang ulama.
"Wahai Guru, kami pernah melihat kuburan orang kafir. Bahkan ada yang mengintip ke dalam kuburnya. Namun kami tidak mendengar teriakan ataupun melihat mengintip yang dikatakan sedang alami mereka. Bagaimana kami bisa mempercayai sesuatu yang tidak terlihat oleh mata?"
Ulama itu tersenyum. Ia berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Untuk memahami hal seperti itu, tidak selalu cukup hanya dengan mata,” katanya lembut.
"Coba ingat orang yang sedang tidur. Dalam mimpinya, ia bisa saja dikejar ular, jatuh dari tempat tinggi, atau mengalami sesuatu yang menakutkan. Ia merasa takut, berteriak, bahkan berkeringat. Semua itu terasa nyata baginya.
Namun orang-orang yang melihatnya dari luar hanya menyaksikan seseorang yang sedang tidur. Mereka tidak melihat ular yang mengejarnya atau bahaya yang dialaminya. Jadi, jika mimpi yang sederhana saja tidak dapat dilihat oleh mata orang lain, bagaimana mungkin kita berharap bisa melihat apa yang terjadi di alam barzah?”
Semua orang yang hadir mengangguk-angguk memahami penjelasan tersebut.
Baginda Raja pun sangat terkesan.
Ceramah berlanjut. Kali ini sang ulama berbicara tentang surga dan kenikmatan yang disediakan Allah bagi para penghuninya.
“Di surga,” kata ulama itu, “terdapat berbagai kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah dibayangkan oleh manusia. Salah satunya adalah mahkota yang sangat indah. Mahkota itu diciptakan dari cahaya. Keindahannya jauh melebihi seluruh harta dan kemewahan dunia.”
Mendengar penjelasan itu, Baginda semakin takjub.
Setelah ceramah selesai, beliau kembali ke istana. Namun sepanjang perjalanan, pikirannya terus memikirkan penjelasan sang ulama. Sesampainya di istana, muncul keinginan untuk menguji kecerdikan Abu Nawas.
Maka Abu Nawas segera dipanggil menghadap.
Begitu tiba di hadapan raja, Baginda berkata,
“Abu Nawas, aku mempunyai tugas untukmu.”
“Hamba siap mendengarkan, Paduka,” jawab Abu Nawas sambil menunduk hormat.
“Aku ingin kamu pergi ke surga dan membawakan sebuah mahkota surga yang terbuat dari cahaya itu. Apakah kamu sanggup?”
Para pejabat istana yang mendengar perintah itu saling berpandangan. Mereka tahu tugas tersebut tidak mungkin dilakukan.
Namun Abu Nawas menjawab dengan tenang,
“Sanggup, Paduka yang mulia.”
Baginda tersenyum puas.
“Tetapi,” lanjut Abu Nawas, “hamba juga mempunyai satu syarat.”
“Sebutkan syaratmu,” kata Baginda.
“Hamba mohon Paduka menyediakan pintunya terlebih dahulu agar hamba dapat masuk ke sana.”
“Pintu apa?” tanya Baginda heran.
“Pintu menuju alam akhirat, Paduka.”
Baginda semakin bingung.
“Apa yang kau maksud?”
Abu Nawas menjawab dengan tenang,
“Setiap alam memiliki pintunya masing-masing. Pintu menuju alam dunia adalah kelahiran dari rahim seorang ibu. Pintu menuju alam barzah adalah kematian. Sedangkan pintu menuju alam akhirat adalah hari kiamat.”
Seluruh ruangan menjadi sunyi.
Abu Nawas melanjutkan,
“Surga berada di alam akhirat. Jika Paduka benar-benar menghendaki hamba mengambilkan mahkota dari surga, maka dunia ini harus terlebih dahulu melewati pintu menuju alam akhirat, yaitu kiamat.”
Mendengar penjelasan itu, Baginda Raja terdiam. Beliau menyadari bahwa permintaannya memang tidak mungkin dilakukan.
Beberapa saat kemudian, Abu Nawas bertanya dengan sopan,
“Masihkah Paduka menginginkan mahkota dari surga?”
Baginda tidak menjawab. Beliau hanya tersenyum kecil karena telah memahami maksud Abu Nawas.
Abu Nawas pun membungkuk hormat.
“Kalau begitu, hamba mohon diri.”
Lalu ia melangkah keluar dari istana, meninggalkan Baginda yang masih terpukau oleh kecerdikan jawabannya.
Sejak saat itu, Baginda semakin yakin bahwa Abu Nawas bukan hanya cerdas, tetapi juga pandai menjelaskan kebenaran dengan cara yang mudah dipahami.
Pesan moral: Jangan meminta sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia. Selain itu, ilmu dan kebijaksanaan sering kali mampu menjelaskan hal-hal yang tampaknya mustahil dengan cara yang sederhana dan masuk akal.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Tutorial Seru Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting